Hoax

Mengapa ya akhir-akhir ini banyak bermunculan hoax?

Eits, tunggu dulu!

Hoax itu bukan hanya akhir-akhir ini saja. Hoax sudah ada sejak lama lho.

Masa sih?

Begini. Sebagian dari budaya masyarakat kita ini, terutama kaum laki-laki, mengisi waktu luang adalah nongkrong di warung. Kalau di kampuang saya nan jauah di mato, namanya duduak jo maota di lapau. Ada saja obrolan di warung atau lapau tersebut, gak peduli benar atau salah, yang penting dapat menyegarkan suasana.

Semua tertawa mendengarkan berbagai lelucon atau cerita konyol, entah benar atau tidak. Rasanya, lebih banyak tidak benarnya alias dikarang-karang saja.

Berbagai lelucon dan cerita karang-karangan tercurah pada ota lamak di lapau atau obrolan warung. Bahkan bahan obrolan di warung A pun diteruskan ke warung B oleh orang-orang. Maka berkembanglah topik obrolan, tak peduli benar atau salah. Topik bisa melebar ke sana ke mari, yang penting asyik dan seru!

Begitu juga dengan arisan Ibu-ibu. Gosip bertebaran silih berganti, ya hanya sekedar untuk meramaikan suasana. bahkan topik gosip pun berkembang antar kelompok arisan, mirip dengan obrolan warung sebelumnya.

Nah, semua itu hoax juga bukan?

Pola penyebarannya juga mengikuti teori network of information. Pertama menyebar di kalangan terbatas lalu menyebar antar kelompok atau cross the boundaries.

Buat mereka yang nalarnya pendek, bisa jadi topik pembicaraan yang tidak jelas itu alias hoax itu diterima sebagai sebuah kebenaran. Ya mau gimana lagi, nalar dan wawasannya cuma segitu. Tetapi tentu banyak juga orang yang kritis, tidak mudah percaya dengan kabar tidak jelas.

Jadi sebenarnya, pada masyarakat tradisional sebelum adanya internet, aliran informasi (termasuk hoax) juga membentuk jejaring, hanya saja media penyebarannya dari mulut ke mulut, bukan dengan media dijital seperti sekarang.

Penyebaran dari mulut ke mulut tidak menimbulkan adanya jejak, karena semua topik pembicaraan hanya direkam dalam memori dan pikiran manusia, dan bisa terlupakan seiring dengan berjalannya waktu. Dampaknya mungkin dahsyat, tetapi bisa dilupakan dengan cepat.

Jadi, hoax yang ada saat ini sebenarnya adalah kelanjutan dari apa yang sudah ada pada masyarakat kita sejak dulu. Hanya saja, teknologi dijital dan internet membuat hoax dan penyebarannya menjadi lebih dahsyat.

Tetapi esensinya tetap sama, yaitu gosip atau kabar yang tidak jelas asal-usulnya, hanya sekedar untuk bikin suasana ramai saja.

Saat ini, hoax bisa divisualisasikan dalam bentuk grafis dan video, lalu disebarkan melalui media digital dan internet. Akibatnya hoax memiliki jejak dijital yang bisa saja muncul kembali, padahal itu cerita lama.

Hoax masa kini tersimpan dalam bentuk berkas dijital sehingga “abadi” dan bisa dimunculkan kembali.

Nah, sama dengan kondisi masa lalu. Mereka yang wawasannya sempit dan nalarnya rendah, tentu akan mudah percaya dengan hoax.

Ya begitulah. Tuhan sendiri sudah mengingatkan kita bahwa memang berbeda antara manusia yang berilmu dengan yang tidak.

Tetapi yang paling zolim adalah mereka yang berilmu tinggi dan berwawasan luas, tetapi sengaja menggunakan hoax untuk membangun opini masyarakat untuk kepentingan-kepentingan tertentu. Mereka mengkapitalisasi keawaman masyarakat atas suatu fenomena.

Alih-alih ikut serta mencerdaskan kehidupan bangsa, mereka justru memperbodoh masyarakat dengan menyebarkan hoax secara terstruktur dan masif.

Semoga orang-orang seperti ini memperoleh hidayah dari Tuhan dan segera bertobat.

Memang tidak ada teknik yang paling ampuh menangkal hoax. Secara sosial budaya, kelihatannya hoax sudah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Hanya wujudnya menjadi lebih canggih dengan teknologi dijital dan internet.

Secara teknologi, mungkin kita bisa membuat algoritma untuk penangkal hoax. Tetapi instrumen yang paling ampuh sebenarnya adalah kecerdasan, nalar dan wawasan masyarakat secara kolektif.

Marilah gunakan teknologi dijital dan internet secara cerdas. Setidaknya kita tidak membuat diri kita menjadi bagian dari penyebaran hoax.

Salam.
Riri Satria

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s