Antara Padang Panjang dan Bukittinggi

Ada kisah tentang kita di masa lalu
yang tiba-tiba hadir di ruangku.
Padahal sudah puluhan tahun berlalu.

Kita menelusuri malam yang hujan
sepanjang jalan yang masih banyak hutan
antara Padang Panjang dan Bukittinggi.

Kita bicara cita-cita dan visi hidup masa depan.
Kita bicara bangsa, negara, dan nasionalisme.
Kita bicara ideologi, budaya, dan kemanusiaan.
Kita bicara ilmu pengetahuan dan penelitian.
Padahal, saat itu kita masih sangat muda.

Di sebuah warung di tepi telaga Koto Baru, kita berhenti.
Sejenak menikmati angin gunung yang sejuk berteman kabut.
Sambil menikmati secangkir kopi panas, kita teruskan diskusi.
Kau dan aku memang sering berdebat sengit saat itu,
tentang budaya, kemanusiaan, peradaban, apa saja!

Kita diskusi Di Bawah Bendera Revolusi Bung Karno.
Kita membahas Madilog Tan Malaka.
Kita berdebat dialektika dan logika.
Tentang bangsa, negara, dan dunia!
Seolah semua hidup di alam idealisme semata.
Mungkin karena saat itu kita masih muda.
Belum terkontaminasi kotornya realita.

Ah, aku rindu kisah masa lalu itu,
tentang kisah kita, tentang debat kita,
tentang sate Mak Syukur, tentang bika Koto Baru,
tentang tawamu, tentang senyum manis di wajahmu,
sepanjang jalan antara Padang Panjang dan Bukittinggi.

Aku rindu kamu.

(Bogor, 23 Februari 2018)

Advertisements

2 thoughts on “Antara Padang Panjang dan Bukittinggi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s