Guru

(Tulisan memperingati Hari Guru Nasional, 25 November 2017)

Konon ketika Jepang kalah dan hancur pada perang dunia kedua, Kaisar Hirohito pun bertekad membangun negaranya kembali. Pertanyaan pertama yang beliau ajukan kepada para pejabat tinggi negara adalah, berapa guru yang masih tersisa atau yang selamat dari peperangan.

Sang Kaisar mengatakan bahwa jika ingin membangun kembali Jepang, maka kuncinya adalah para guru dan pendidikan.

Sesungguhnya, begitulah posisi strategis guru dalam berbangsa dan bernegara. Kaisar Hirohito sangat visioner dalam hal ini. Buktinya, hanya dalam kurun waktu 20 tahun, Jepang sudah mampu bangkit kembali dan menyelenggarakan Olimpiade.

Nah, menurut saya, guru itu bisa dilihat dalam dua sudut padang, yaitu (1) sebagai profesi, dan (2) sebagai aktivitas.

Sebagai profesi, guru tentu membutuhkan keahlian tersendiri, ada sekolahnya, bahkan ada sertifikasinya. Mereka adalah orang-orang yang mendedikasikan hidupnya untuk mencerdaskan bangsa, membuat generasi baru yang lebih baik daripada generasi mereka. Secara formal, guru dalam definisi ini bernaung di bawah organisasi PGRI.

Sedangkan sebagai aktivitas, maka makna guru tidak dibatasi oleh profesi. Guru adalah mereka yang berbagi sesuatu kepada masyarakat untuk membuat masyarakat itu lebih baik. Siapapun mereka yang mendidik kita pada salah satu atau beberapa atau semua pilar pendidikan UNESCO, sejatinya adalah guru.

Empat pilar tersebut adalah (1) learning to know, (2) learning to do, (3) learning to be, serta (4) learning to live together. Siapapun yang mendidik kita dalam empat pilar itu harus dimaknai sebagai sosok guru.

Nah, guru-guru seperti ini tersebar dalam kehidupan kita sehari-hari, tidak terbatas di ruang kelas semata.

Jadi, setiap kita bisa berbagi pengetahuan dan pengalaman dengan orang lain, terutama dengan generasi yang lebih muda.

Setiap kita bisa jadi guru!

Satu hal yang membuat saya prihatin saat ini ketika kata-kata “menggurui” menjadi berubah makna, berkonotasi negatif. Banyak orang yang tidak suka “digurui”. Padahal kata dasarnya, “guru” memiliki makna yang sangat mulia.

Selamat Hari Guru untuk semua sahabat, baik sahabat guru secara profesi, maupun semua sahabat yang menjalankan aktivitas guru walaupun bukan berprofesi sebagai guru.

Insya Allah, ilmu yang bermanfaat itu adalah aliran pahala yang tiada putus walaupun seseorang itu sudah dipanggil pulang menghadap Sang Khalik.

Salam
Riri Satria

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s