Pendidikan yang Memerdekakan

Pada suatu sesi mengajar kampus pada sebuah program S2, seorang mahasiswa bertanya kepada saya, “Bagaimanakah Bapak menilai hasil ujian kami nantinya? Apakah harus sesuai dengan pendapat Bapak?”.

Pertanyaan ini membuat saya terkejut. Betapa tidak? Pada tingkat pendidikan S2, masih ada pemikiran pada diri seorang mahasiswa bahwa untuk mendapatkan nilai tinggi, maka dia harus tunduk kepada pendapat sang dosen.

“Jika ada diantara Anda yang sanggup memberikan perspektif yang berbeda dengan pendapat saya, selama itu memiliki argumen yang kuat, maka saya akan beri nilai A”, demikian jawaban saya kepada si mahasiswa tersebut.

Jawaban saya itu rupanya memancing reaksi dari para mahasiswa lain di kelas. “Wah, jadi kita boleh berpikir bebas ya Pak?”. Saya menjawab, “Tentu saja, bahkan kembangkanlah imaginasi dan kreativitas seluas-luasnya, selama itu masih dalam koridor ilmiah yang sistematis, dan saya sangat menghargai mereka yang mampu seperti itu”.

Saya jelaskan lebih lanjut, “Tugas saya sebagai dosen adalah menjadi fasilitator Anda semua dalam belajar, semacam learning partner. Dengan demikian, belum tentu seorang dosen itu lebih pintar dari Anda.

Ibarat Sir Alex Fergusson yang tidak pernah terkenal saat dia berprofesi sebagai pemain bola, artinya dia bukan pemain bola yang hebat, tetapi dia sanggup melatih dan memunculkan bintang-bintang kelas dunia di Machester United.

Dalam hal bermain bola, Alex mungkin tidak lebih hebat dibanding anak didiknya, tetapi memang tugas dia sebagai pelatih adalah membentuk pemain kelas dunia, dan itulah keahliannya.

Saya sependapat dengan Stephen Covey dalam bukunya “The 8th Habit” yang melengkapi teori “7-Habit” yang dia luncurkan sebelumnya, di mana sebagai pemimpin, pelatih, guru, atau sejenisnya, tugas kita adalah “articulate our own voice, and help others to find and articulate their own voice“.

Tugas kita bukanlah sebagai pembatas, penaruh beban, pembatas pemikiran, pengungkung paradigma, yang akan mengerdilkan para mahasiswa atau anak didik nantinya.

Saya sependapat dengan Bapak Pendidikan Nasional kita, Ki Hajar Dewantara, yang mengatakan bahwa pendidikan itu harusnya memerdekakan pemikiran, memberikan keberanian kepada anak didik atau mahasiswa untuk bernalar dengan menggunakan koridor ilmiah dengan argumen-argumen yang kuat tentunya.

Dosen itu tugasnya melatih dan memfasilitasi para mahasiswa untuk bernalar dan berargumen.

Pendidikan bukanlah bertujuan untuk membuat orang menjadi peniru yang tumpul kreativitas, karena dalam jangka panjang hal ini tentu tidak baik untuk kemajuan sebuah masyarakat.

Tetapi perlu dipahami bersama, pikiran yang merdeka bukanlah pikiran yang asal bebas begitu saja, melainkan juga punya unsur tanggung jawab.

Kita harus bertanggung jawab dengan pemikiran kita sendiri.

Setujukah Anda?

Salam
Riri Satria

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s