Mengenali Masalah

Dalam sebuah diskusi, beberapa panelis berupaya untuk mengupas masalah yang penting dan berupaya mencari solusinya. Saya sebagai peserta mengikuti diskusi ini dengan sangat antusias. Diskusi ini terkait dengan aspek-aspek sosial kemasyarakatan. Ini sesungguhnya adalah topik diskusi yang menarik dan strategis.

Tetapi setelah diskusi berlangsung cukup lama, arahnya masih belum jelas, apa yang menjadi pokok permasalahan, serta apa alternatif-alternatif solusi yang ingin ditawarkan oleh para panelis. Bahkan jalannya diskusi pun melompat-lompat walaupun sang moderator sudah berupaya untuk membuat diskusi berjalan dengan sistematis.

Ketika tiba giliran menyampaikan pendapat oleh peserta non-panelis, saya mencoba untuk memperdalam pembahasan dengan mempertajam apa yang menjadi pokok permasalahan. Menariknya, justru ada panelis yang mempertanyakan mengapa saya justru mendiskusikan masalah, bukan solusi. Dia mengatakan, lakukan saja tindakan nyata, tidak usah terlalu banyak analisis mempermasalahkan ini dan itu.

Sampai pada titik ini, akhirnya saya berhenti berkomentar, karena logika berpikirnya sudah tidak seirama lagi.

Well, mengenali masalah dengan baik dan tajam adalah separuh jalan untuk memberikan solusi yang baik. Inilah yang selalu saya tekankan kepada para mahasiswa saya di kampus. Makanya saya selalu men-drill mahasiswa untuk memperjelas masalah yang dihadapi, bukan desas-desus, bukan pula gosip.

Itulah sebabnya dalam manajemen kita mengenal istilah problem analisis and problem solving. Keduanya sejalan dan sekuensial.

Mungkin bagi sebagian orang, proses menganalisis dan mempertajam masalah identik dengan membuat masalah. Padahal sesungguhnya bukan. Itu adalah dua hal yang berbeda. Kita tidak membuat masalah, melainkan mencoba untuk mengenali masalah lebih baik, lebih jelas, lebih tajam, dan lebih sistematis.

Tidak mungkin ada solusi tanpa mengenali masalah. Efektivitas suatu tindakan (action) adalah ketika dia mampu menyelesaikan masalah. Lagi-lagi, kita harus mengenali masalah dengan baik.

Banyak kita lihat pembangunan infrastruktur atau bahkan kebijakan dibuat tanpa mengenai apa yang menjadi pokok permasalahan di masyarakat. Misalnya terminal angkutan umum yang akhirnya tidak dipergunakan sebagaimana mestinya, atau peraturan daerah yang banyak diprotes masyarakat. Ini adalah suatu “solusi” yang dibuat tanpa mengenai permasalahan dengan tajam.

Semua tools untuk problem solving selalu memulai langkahnya dengan analisis masalah yang mendalam. Bahkan dalam banyak kasus, masalah itu bersifat dilematis dan unstructured. Ini harus dianalisis baik-baik sehingga kita menjadi paham pokok permasalahannya.

Kita bisa menggunakan konsep analisis Kepner dan Tregoe, atau diagram tulang ikan Ishikawa, bahkan metode mindmap Tony Buzan pun bisa dipergunakan. Semuanya membantu kita berpikir analisis dan mempertajam pokok permasalahan yang kita hadapi.

Tetapi tentu saja kita tidak boleh terperangkap apalagi tenggelam dalam diskusi permasalahan semata. Ujung-ujungnya kita tetap harus merumuskan alternatif solusi yang efektif dan tentu saja efisien untuk permaslaahan yang kita hadapi.

Kita memang harus menjadi man of solution, bukan man of the problem, tetapi bukan berarti abai terhadap problem analysis.

Salam
Riri Satria

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s