Experiential Learning: Catatan Wisata Budaya dan Literasi Dapur Sastra Jakarta ke Bali Tahun 2016 dan 2017

Jika tujuan belajar hanya sekedar untuk menambah ilmu pengetahuan dan keahlian, maka proses belajar cukup dilakukan di ruang kelas, ruang seminar, laboratorium, perpustakaan, dan sejenisnya.

Tetapi tujuan belajar jauh dari hanya sekedar menambah ilmu pengetahuan dan keahlian.

UNESCO bahkan mencanangkan bahwa tujuan belajar juga membuat kita menjadi semakin percaya diri dan mampu hidup berdampingan dalam perbedaan. Ini tercantum dalam empat pilar proses belajar versi UNESCO, yaitu (1) learning to know, (2) learning to do, (3) learning to be, serta (4) learning to live together. Keempat proses ini harus simultan untuk suatu proses pembelajaran yang paripurna.

Inilah yang menjadi latar belakang gagasan agenda wisata budaya dan literasi Dapur Sastra Jakarta ke Bali tahun 2016 dan 2017. Insya Allah ini akan menjadi agenda tahunan Dapur Sastra Jakarta ke depan dan semoga tidak ada halangan untuk menjalankannya.

Selama lebih 20 tahun berprofesi sebagai konsultan dan juga dosen, saya percaya dengan konsep experiential learning untuk menumbuhkan empat proses belajar versi UNESCO tersebut dalam suatu proses yang terintegrasi.

Experiential learning mengatakan bahwa memberikan pengalaman yang baru bahkan spesifik akan menginternalisasikan empat pilar proses belajar pada diri seseorang.

Dia akan belajar melalui proses internalisasi dan kontemplasi. Penekanan learning points dari orang lain hanyalah sebagai pelengkap.

Ini diperkuat dengan hasil diskusi saya dengan beberapa sahabat sastrawan senior menunjukkan bahwa dalam berkesusastraan, kemampuan menulis (learning to know dan learning to do) saja tidak cukup. Itu hanyalah minimum requirements untuk terjun ke dunia sastra.

Selanjutnya perlu memiliki kepercayaan diri atau self confidence (learning to be) yang tinggi dan juga menghargai karya orang lain walau berbeda genre dan sudut pandang (learning to live together).

***

Pada tahun 2017 ini, selama satu minggu (24-30 Oktober 2017), rombongan Dapur Sastra Jakarta berjumlah 17 orang yang terdiri dari para pemenang Lomba Buku dan Penulisan Kreatif bersama beberapa admin grup bersama-sama mengeksplorasi keempat proses belajar versi UNESCO tadi, terutama di bidang sastra.

Selama beberapa hari di acara Ubud Writers and Readers Festival memberikan pengalaman kepada rombongan merasakan atmosfer internasional dan multikultur. Ini tentu memberikan pengalaman baru di mana kita tidak hanya sekedar melihat, bahkan merasakan berbagai perbedaan kultur.

Saya melihat sendiri beberapa sahabat DSJ sudah berani ngobrol bahkan berdiskusi dengan para pengunjung atau penulis dari luar. Ini tentu sebuah pengalaman tersendiri yang sejalan dengan learning to live together.

Saya yakin, pengalaman yang tak terlupakan dialami oleh tujuh perempuan Dapur Sastra Jakarta (serta tiga pada tahun 2016 yang lalu) yang tampil pada acara Women of Words Poetry Slam di Betelnut Cafe, berkompetisi dengan para pembaca puisi dari mancanegara.

Mereka harus mengatasi rasa grogi, menumbuhkan rasa percaya diri, tidak boleh merasa inferior menghadapi orang asing, dan sebagainya. Ini sejalan dengan learning to be pada empat pilar belajar UNESCO.

Saya yakin, saya bisa! I want to be, then it will be!

Selamat untuk Na Dhien Kristy, Nunung Noor El Niel dan Dewi Salistiawati W yang menjajal panggung Woem of Words poetry slam ini pada tahun 2016 yang lalu, serta Emi Suy, Erna Winarsih Wiyono, Ummi Rissa, Tiena Al’wien, Windu Setyaningsih, Winar Ramelan serta Na Dhien (untuk kedua kalinya) pada tahun 2017, serta Nunu Azizah dan Heru yang tampil pada panggung UWRF Poetry Slam malam berikutnya.

Terima kasih untuk Bang Remmy Novaris DM, Bang Conie Sema dan Cang Salimi Ahmad yang memberikan workshop singkat di hotel pada pagi harinya kepada para sahabat yang akan tampil.

Satu hal yang mengejutkan adalah, kawan kita Erna Winarsih Wiyono mendapatkan nilai di atas 7 dari 4 juri (semua ada 5 juri, 2 diantaranya dari Australia) dan kalau saya hitung Erna masuk 5 besar dari 20 peserta Women of Words Poetry Slam 2017 yang lalu. Saat itu, Erna membaca sebuah puisi yang di dalamnya terdapat 3 bahasa!

Lalu Emi Suy yang tampil di panggung dengan topi khasnya, membuat dia mudah dikenali oleh beberapa orang di lokasi acara UWRF, termasuk pengunjung / penulis dari luar. Ini menjadi awal yang pas untuk memulai sebuah sosialisasi. Jadi, diferensiasi itu memang perlu! Anda akan mudah dikenal orang.

Saya pribadi juga banyak belajar pada Ubud Writers and Readers Festival ini sejak tahun 2014. Apalagi pada tahun 2017 ini saya meluncurkan buku Winter in Paris.

Well, ini adalah suatu ajang memperoleh pengalaman internasional dengan biaya lokal .. hehehe .. Cukup murah sebenarnya.

Begitulah, jadi perjalanan satu minggu rombongan Dapur Sastra Jakarta di Bali tersebut bukanlah sekedar jalan-jalan semata, melainkan suatu program yang disusun dengan mengadopsi konsep experiential learning dengan mengeksekusi empat pilar proses belajar UNESCO, learning to know, learning to do, learning to be dan learning to live together.

Acara di Jatijagat Kampoeng Puisi (2017) serta Festival Puisi Klungkung (2016) ikut mewarnai proses belajar rombongan Dapur Sastra Jakarta tentang bagaimana aktivitas komunitas penyair di Bali.

Persahabatan juga terjalin dengan kawan-kawan penyair di komunitas ini dan sudah mulai ditindaklanjuti oleh Bang Remmy Novaris DM dan Mbak Nunung Noor El Niel ke depannya dalam wujud program bersama.

Acara peluncuran buku Dewi Salistiawati (Imaji Biru) dan Winar Ramelan (Narasi Sepasang Kaos Kaki) menandai pertama kalinya sahabat Dapur Sastra Jakarta mengadakan acara peluncuran buku di Jatijagat Kampoeng Puisi di Bali.

Besar kemungkinan ke depan, akan ada acara peluncuran buku karya sahabat di Dapur Sastra Jakarta di Bali setiap tahun. Semoga bisa terlaksana.

Besar juga harapan saya akan ada sahabat yang meluncurkan bukunya pada Ubud Writers and Readers Festival di tahun-tahun mendatang menyusul Winter in Paris.

Di samping itu, rombongan melakukan wisata budaya lainnya untuk mengenal Bali lebih dekat, antara lain nonton tari kecak di Pura Ulu Watu, mengunjungi kebun kopi luwak di sekitar Ubud, area persawahan di Tegalalang, monkey forest di Ubud serta selingan hura-hura di museum 3D I am Bali dan agenda wajib para Mak-mak, belanja oleh-oleh di Airlangga. Acara satu minggu ditutup dengan main-main di pantai Pandawa dan pantai Kuta.

Tentu saja banyak pengalaman berkesan lainnya buat para sahabat yang ikut dalam rombongan ini. Misalnya, ada yang baru pertama kali naik pesawat terbang, ada yang baru pertama kali ke Bali, ada yang ketakukan didekati monyet, ada sok kuat ternyata harus dilarikan ke dokter, ada yang setiap saat harus lapor posisi kepada suami, dan sebagainya .. hehehe ..

***

Saya sebagai konseptor acara ini sangat bahagia melihat para sahabat belajar sesuatu, learning to know, learning to do, learning to be dan learning to live together.

Terima kasih Mbak Nunung Noor El Niel yang menjadi manajer operasional lapangan selama di Bali, yang sangat disiplin ibarat Ibu Kos. Hampir setiap pagi menggedor pintu kamar peserta untuk membangunkan yang masih molor padahal kita sudah mau berangkat. Mbak Nunung juga yang mengatur jadwal penerbangan dan akomodasi.

Terima kasih kepada para sepuh Bang Remmy Novaris DM, Bang Conie Sema serta Cang Salimi Ahmad yang sudah memberikan nuansa pembelajaran dengan menyampaikan banyak learning points selama acara kunjungan ini.

Terima kasih untuk sahabat Dapur Sastra Jakarta semuanya.

Sampai ketemu di acara sejenis tahun 2018 yang akan datang.

Sebagai informasi tambahan, Lomba Buku dan Penulisan Kreatif Dapur Sastra Jakarta tahun 2018 akan diumumkan pada bulan Maret 2018 nanti. Persiapkan diri Anda and stay tune!

Salam kreatif dan sukses selalu.
Riri Satria

Advertisements

3 thoughts on “Experiential Learning: Catatan Wisata Budaya dan Literasi Dapur Sastra Jakarta ke Bali Tahun 2016 dan 2017

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s