Masih tentang Menilai

… sambungan dari tulisan yang ini.

***

Pernahkah Anda mendapatkan tugas untuk menilai sesuatu? Menilai itu bisa dalam kapasitas sebagai dosen penguji, juri, asesor, kurator, evaluator, penilai tender proyek, penyidik bahkan sampai hakim.

Saya sering mengalaminya. Mulai dari menilai tugas dan hasil ujian mahasiswa, menilai sidang akhir mahasiswa apakah lulus atau tidak, bahkan sampai dengan menjadi anggota tim asesor calon direksi BUMN serta pejabat eselon I dan II di kementerian dan lembaga negara.

Tetapi jujur saya, saya selalu membutuhkan waktu yang lama sebelum memberikan penilaian. Sering terjadi pertarungan dalam pikiran (rasionalitas) dan batin (wisdom) dalam melakukan penilaian.

Sebelum saya melakukan penilaian, saya sering memikirkan kembali apakah semua hal yang relevan sudah saya pertimbangkan atau belum? Walaupun pada kenyataannya kita tak akan sanggup mempertimbangkan semua aspek tersebut. Saya yakin, keterbatasan kita sebagai manusia membuat kita hanya sanggup mempertimbangkan aspek-aspek yang terpikirkan oleh kita semata.

Saya sering berdiskusi panjang dengan kolega saya Betty Purwandari mengenai penilaian untuk mahasiswa. Kami sangat paham bahwa penilaian adalah bagian dari proses pembelajaran, sehingga harus dilakukan dengan mempertimbangkan aspek rasionalitas dan wisdom secara bersamaan.

Nah, untuk menilai mahasiswa saja sudah demikian rumit, apalagi untuk menilai hal-hal yang lebih rumit lagi seperti asesmen untuk promosi jabatan dan sebagainya.

Saya bisa membayangkan betapa rumitnya tugas seorang penyidik untuk memutuskan status terdakwa kepada seseorang, atau tugas seorang hakim ketika akan menjatuhkan sebuah keputusan karena akan langsung berdampak kepada hidup di terdakwa, apalagi kalau kasusnya diancam dengan hukuman mati.

Rasionalitas dan wisdom akan menjadi bahan pertimbangan yang matang untuk si penyidik dan hakim.

Seorang ustad, sahabat saya, pernah mengatakan kepada saya bahwa yang harus kita renungkan pertama kali adalah bertanya kepada diri sendiri apakah kita memiliki kompetensi yang cukup untuk melakukan penilaian tersebut atau tidak? Jika tidak, mundurlah. Jika iya, mulailah dengan bismillah dan niat baik. Jadi self-assessment itu penting! Menjadi penilai adalah amanah.

Jadi kata-kata “memutuskan dengan adil” itu dimulai dengan “mengadili” diri sendiri, apakah sudah layak untuk “mengadili” orang lain.

Setelah melakukan “mengadili diri sendiri” melalui self-assessment dan kita merasa layak menerima amanah itu, maka pastikan kita sudah mempertimbangan semua aspek penilaian itu dengan seksama dan matang.

Sebelum keputusan dibuat, lakukan dialog dengan hati nurani sendiri tentang penilaian ini berupa dampaknya kepada berbagai pihak, dan inilah yang dimaksud dengan wisdom.

Satu lagi, jangan pernah melakukan penilaian dalam keadaan emosi, karena besar kemungkinan rasionalitas raib sejenak dan wisdom pun mandek.

Jika semua sudah lakukan, maka serahkan semuanya kepada Tuhan, karena semua akam terjadi dengan izin-Nya, termasuk proses berpikir pada diri kita.

Bagaimana kalau tetap keliru? Jika semua yang perlu dilakukan sudah dilakukan dan masih tetap keliru, maka jangan mencari-cari pembenaran.

Kalau keliru, katakanlah keliru, walapun itu sangat manusiawi. Ini sekaligus menjadi sinyal kepada kita bahwa ternyata ilmu kita masih kurang dan harus tetap belajar.

Terakhir, bagaimana kalau melakukan kecurangan? Oh well, Tuhan tak pernah tidur. Pepatah mengatakan, sepandai-pandainya tupai melompat, adakalanya terjatuh juga.

Kesimpulannya, menilai itu adalah amanah, maka lakukanlah dengan baik .. simpel kan?  .. yang sulit itu melaksanakannya

Salam.

Advertisements

One thought on “Masih tentang Menilai

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s