Pergeseran Paradigma ke Era Digital

Era digital memunculkan pandangan baru terhadap bisnis dan ekonomi, di mana muncul platform heavy business sebagai fenomena business model baru yang merupakan alternatif untuk asset-heavy business yang klasik. Menganalisis platform based economy tidak bisa menggunakan pendekatan ilmu ekonomi atau bisnis era industrial economy yang klasik.

Kita memerlukan suatu basis teori yang baru untuk memotretnya. Bahkan riset untuk hal ini sering berupa grounded theory yang melepaskan diri dari paradigma lama.

Perseteruan antara ojek berbasis aplikasi seperti Gojek dengan ojek konvensional dianggap sebagai sebuah konflik horizontal biasa pada masyarakat. Mungkin tidak banyak yang menyadari, bahwa sesungguhnya ini adalah konflik yang disebabkan paradigm shift di era digital yang memunculkan paradigm gap.

Ternyata fenomena ini juga merambah ke dunia sastra. Era digital membawa munculnya aktivitas sastra yang baru, yaitu cyberliterature, yang lebih inklusif. Fenomena ini tentu mengusik pandangan klasik sastra ekslusif yang menempatkan sastra media mainstream seperti majalah atau koran sebagai lokomotifnya. Seolah-olah karya sastra baru dikatakan berkualitas ketika muncul di media mainstream tersebut. Lah, koran pun sudah bertumbangan disapu tsunami era digital.

Juga demikian di dunia politik. Peranan media sosial dalam menentukan elektabilitas mengubah pandangan klasik tentang faktor-faktor yang menentukan seseorang untuk memilih. Medan pertempuran pun bertambah, yaitu di dunia maya lengkap dengan fenomena cybertroops. Fenomena ini disebut dengan istilah information politics oleh pengamat intelijen Tim Jordan. Tetapi masih banyak yang belum bisa menerima kenyataan ini terutama yang masih setia dengan teori yang klasik.

Kejahatan model baru pun muncul, yaitu cybercrime, yang tidak dikenal dalam ilmu kriminologi 20 tahun yang lalu. Ini juga dampak dari era digital. Maka teori kriminologi pun berkembang.

Perang pun memiliki paradigma baru. Saat ini muncul istilah cyberwar melengkapi conventional war yang sudah dikenal sebelumnya. Ini fenomena baru yang disebut sebagai dark territory oleh pengamat militer Fred Kaplan. Tentu saja paradigma cyberwar ini tidak bisa dipotret dengan menggunakan teori perang klasik pada zaman perang Korea apalagi perang dunia kedua. Tetapi tidak semua pihak menerima kenyataan ini dan banyak petinggi militer terusik dengan fenomena cyberwar ini.

Saya sering menyebut ini sebagai fenomena subyektifitas generation gap.

Tetapi syukurlah, Panglima TNI, Jenderal Gatot Nurmantyo sangat paham dengan cyberwar dengan menyiapkan unit khusus di TNI untuk hal ini. Demikian pula dengan Kapolri Jenderal Tito Karnavian yang membentuk unit cybercrime di Polri, serta Jenderal Budi Gunawan yang membentuk unit cyberintelligence di BIN.

Ketiga organisasi ini menangkap fenomena baru era digital dan cyber serta langsung berbenah diri. Mungkin ketiga jenderal ini dapat dijadikan contoh generasi baby boomers tetapi terbuka dengan paradigma baru era digital atau cyber.

Tetapi di seluruh dunia, generasi baby boomers ini memang sedang galau menyikapi paradigma era digital atau cyber ini. Suatu paradigma baru dalam masyarakat biasanya memang menimbulkan disruptions alias goncangan serta resistensi yang umumnya lebih disebabkan ego yang terusik.

Sementara itu generasi Y dan Z yang disebut juga generasi milenial sudah beradaptasi dengan fenomena digital. Generasi X yang disebut generasi peralihan pada umumnya sudah mampu menerima fenomena era digital.

Itulah sebabnya, saya selalu menghindari debat tentang digital economy atau digital era secara umum dengan orang-orang generasi baby boomers yang masih setia dengan teori atau paradigma masa lalu, karena basis pijakan yang dipakai juga sudah tidak sama. Nantinya akan menjadi debat kusir semata.

Percuma kita berdebat dengan pihak yang masih menggunakan teori dan paradigma masa lalu untuk membahas masa depan.

Salam.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s