mendung di bumi lancang kuning

Ada mendung di Bumi Lancang Kuning.
Tiga gubernur berturut-turut terjerat kasus korupsi.

Sultan Syarif Kasim II menangis di alam sana.
Pada perang kemerdekaan melawan penjajah dulu,
Sang Sultan menghibahkan kekayaan 13 juta Gulden,
demi jaya dan tegaknya merah putih.

Sekitar lima puluh tahun kemudian,
tiga gubernur berturut-turut menjarahnya

Apa tanda Melayu berakal,
pada yang adil ia berpangkal,
pada yang benar ia tawakal.

Apa tanda Melayu berilmu,
pada yang adil ia bertumpu,
pada yang benar ia berguru.

Apa tanda Melayu bermarwah,
adil dan benar tempat berumah.

Akal dan ilmu dipenggal!
Keadilan dan kebenaran tak lagi jadi tumpuan!
Marwah tak lagi jadi rumah!
Riau pun masuk daftar rawan korupsi!

Bangkitlah wahai Bumi Lancang Kuning!
Singkirkan mendung, bangun marwah rumah kita.
Bangunlah Bumi Bertuah Negeri Beradat.

(Cibubur – 15/03/2017)

Catatan :

Pada puisi ini saya menyelipkan tiga bait pepatah-petitih Melayu dari daerah Riau yang dicetak miring.

Puisi ini dimuat pada antologi puisi “Puisi Menolak Korupsi VI”, diperkirakan terbit pertengahan tahun 2017.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s