Hijrah

Ada suatu pepatah dari luar sana yang saya sukai, yaitu “if everything seems so easy, then you are stepping downhill“. Pesan yang ingin disampaikan adalah “hati-hatilah dengan kenyamanan, kesenangan, dan kemudahan, jangan-jangan itu adalah jebakan dalam kehidupan kita”.

Agak ironis memang, bukankah kita bekerja keras dalam kehidupan untuk mencari kenyamanan, kesenangan, dan kemudahan? Bisa jadi! tetapi mungkin maksudnya adalah kita harus selalu mawas diri dalam kehidupan walau dalam kondisi yang nyaman, senang, dan mudah sekalipun.

Ada istilah yang sangat populer dalam kehidupan, yaitu zona nyaman atau comfort zone. Zona ini adalah suatu kondisi di mana seseorang sudah masuk ke dalam situasi segala sesuatunya terasa nyaman, senang, dan mudah.

Studi menunjukkan bahwa kebanyakan orang yang tidak mawas diri akan terjenak dalam zona nyaman ini. Ya, zona nyaman ini adalah jebakan. Suatu jebakan di mana akhirnya kita berhenti untuk berpikir, berhenti untuk berusaha, berhenti untuk mengembangan diri, dan yang paling gawat adalah berhenti untuk bersyukur.

Akibatnya secara perlahan kita mengalami penurunan kompetensi, penurunan daya juang, penurunan berpikir, dan akhirnya tumbang atau jatuh. Sudah banyak bukti yang menunjukkan bahwa tumbang atau jatuh karena terjebak dalam zona nyaman ini sungguh menyakitkan.

Syukurlah bagi yang segera sadar dan bangkit. Tetapi celakanya, banyak yang tidak segera sadar, dan akhirnya sibuk menyalahkan pihak-pihak lain tanpa ada upaya untuk mengintrospeksi diri.

Salah satu hikmah yang saya selalu renungkan setiap tahun baru 1 Muharram adalah makna kata-kata “hijrah“. Apa yang saya pahami tentang hijrah ini? Makna hijrah menurut saya adalah berubah, yaitu berubah ke arah yang lebih baik, dan jangan sampai terjebak dalam zona nyaman.

Janganlah menolak perubahan (tentu saja perubahan ke arah positif). Pikiran dan paradigma harus terbuka terhadap perubahan. Bagaimana kita selalu membuat diri kita menjadi lebih baik dan bermanfaat untuk orang lain serta kehidupan.

Sebagai soerang dosen, saya selalu berpesan kepada para mahasiswa yang sudah lulus, janganlah terjebak di zona nyaman. Kelulusan dari kampus bukanlah akhir untuk belajar. Hidup itu adalah belajar sampai akhir hayat.

“Belajarlah menggali ilmu sampai akhir hayat” mengandung makna bahwa kita tidak boleh terjebak dalam zona nyaman dan harus tetap belajar. Belajar dari pengalaman hidup, pengalaman orang lain, dan dari mana saja, supaya bisa diterapkan atau diamalkan.

Ilmu itu ada karena dipikirkan. Dia menjadi abadi karena dituliskan. Semakin diketahui karena disebarkan. Menjadi berkembang karena didiskusikan. Menjadi bermanfaat karena diamalkan.

Prinsipnya adalah pikirkan – tuliskan – sebarkan – diskusikan – amalkan. Dari penerapan atau pengamalan ilmu kita kembali diajak untuk berpikir dan akhirnya mendapatkan pelajaran baru.

Jika siklus ini terjadi, maka kita akan terhindar dari jebakan zona nyaman.

Apakah kita tidak boleh nyaman, senang, dan bahagia? Tentu saja boleh .. lucu juga kali ya kalau hidup ini tidak merasakan kenyamanan dan kebahagiaan .. yang perlu kita waspadai apabila hal ini akan menjebak kita dan membuat terlena. Inilah yang dimaksud dengan jebakan zona nyaman.

Jim Collins, seorang pakar manajemen, pernah melakukan penelitian tentang perusahaan-perusahaan raksasa di dunia yang sebelumnya dianggap tidak akan pernah kolaps, tetap ternyata akhirnya tumbang atau kolaps juga.

Hasil riset empiris yang dilakukan beberapa tahun oleh Jim Collins seperti yang diuraikan dalam bukunya yang berjudul How the Mighty Fall (terbit 19 Mei 2009). Intinya, perusahaan-perusahaan besar tersebut terperangkap ke dalam zona nyaman dan merasa jumawa alias takabur. Akhirnya, bisa kolaps juga.

Hasil riset Jim Collins menunjukkan adanya kesamaan pola dari para perusahaan raksasa yang pernah sukses, tetapi berikutnya tumbang. Dia menguraikan pola itu dalam lima tahap kehidupan perusahaan menjelang kejatuhan.

Apa yang menarik? Ternyata tiga tahap awal sama sekali tidak menunjukkan aura kejatuhan, melainkan penuh dengan aura kesuksesan dan perusahaan terjebak dalam zona nyaman. Tetapi rupanya ada suatu bahaya yang perlahan-lahan menghampiri dan dia akan mencekik perusahaan itu pada tahap ke-4 dan membunuhnya pada tahap ke-5! … and the mighty fall!

Jika perusahaan raksasa bisa mengalami situasi seperti itu, apalagi perusahaan kecil, apalagi diri individu kita yang biasa-biasa saja. Memang jebakan zona nyaman ini sangat berbahaya.

Kembali ke makna “hijrah” atau berubah ke arah yang lebih baik .. pesannya adalah jangan menolak perubahan ke arah kebaikan, jangan terjebak ke dalam zona nyaman, selalu mengembangkan diri, selalu mawas diri, dan jangan pernah berhenti menyukuri apa yang sudah diperoleh ..

Tulisan ini adalah renungan buat diri saya sendiri .. dan siapa pun yang membacanya dengan paradigma terbuka ..

Salam
Riri

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s