Perempuan dalam Gerbong

Ini untuk kedua kalinya saya menyaksikan pementasan teater karya sahabat saya.

Pada tahun 2015 saya bersama keluarga menyaksikan pementasan teater “Namaku Nama” karya Herlina Syarifudin di Jakarta, yang akhirnya membawa Herlina ke Capetown, Afrika Selatan untuk mengikuti Women Playwrights International Conference (WPIC) 2015.

Pada tahun 2017 ini, saya menyaksikan pementasan teater “Perempuan dalam Gerbong” karya Maya Azeezah pada peringatan Hari Teater Dunia di Taman Budaya Jawa tengah, kota Solo, Minggu 26 Maret 2017.

Sama dengan Herlina, Maya juga sudah malang-melintang di dunia teater. Di samping bergiat di dunia teater, Maya juga menulis puisi dan sudah menerbitkan tiga buku puisi, yaitu “Mengenal dan Mengenang” (2015), “Catatan Kehilangan” (2016), serta “Risalah Cinta” (2017).

Maya juga sudah menulis sejumlah drama monolog, naskah panggung, serta naskah film, dan menyutradarai beberapa naskah panggung. Saat ini Maya adalah pimpinan grup teater “Lintas Teater” di Jakarta Utara, serta penggiat sastra di komunitas Dapur Sastra Jakarta.

Mendahului pementasan “Perempuan dalam Gerbong” ini, dilaksanakan peluncuran buku naskah dramanya pada hari Sabtu, 25 Maret 2017. Pada kesempatan itu, saya menjadi pembahas mewakili komunitas Dapur Sastra Jakarta.

Pesan apa yang ingin disampaikan oleh “Perempuan dalam Gerbong”? Saya menangkap bahwa ini adakah suatu dialog batin para perempuan, tentu saja dalam perspektif perempuan, dan dipentaskan oleh pemain yang hampir semuanya perempuan (hanya satu laki-laki).

Ada sosok perempuan hitam yang merepresentasikan “keburukan” dan perempuan putih yang merepresentasikan “kebaikan”. Maya mengajak pemirsa untuk menyimak dialog batin itu antara perempuan hitam dan perempuan putih.

Pesan moralnya tentu bisa ditebak, “keburukan” dikalahkan oleh suara batin itu sendiri, tetapi ego untuk mengalahkan “keburukan” itu yang menjadi faktor penghambat terbesar.

Saya melihat Maya tidak bermaksud mengajari pemirsa, melainkan mengajak pemirsa untuk ikut serta melakukan dialog batin tersebut, terutama para perempuan.

Bagaimana proses kreatif Maya membuat naskah ini sampai pementasan? Menurut Maya, semua ini berawal dari sebuah puisi dengan judul yang sama pada buku “Catatan Kehilangan” (2016). Dari puisi itu, Maya terus mengembangkan ide kreatifnya sampai akhirnya berwujud sebuah naskah drama.

Proses kreatifnya berlangsung seperti model spiral, semakin lama semakin baik, dengan melakukan semacam “uji coba” dengan meminta pendapat kolega di dunia teater dan sastra.

Sebagai orang yang berkecimpung di dunia teknologi informasi, maka saya pun teringat model spiral dalam proses software engineering. Prinsipnya ternyata sama.

Selamat untuk Maya, dan terus berkarya, semakin berkembang lagi.

Salam sukses selalu.
Riri

Advertisements

One thought on “Perempuan dalam Gerbong

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s