Sitti Nurbaya dan Kemanusiaan

Jika Anda pernah membaca novel klasik “Sitti Nurbaya” karya Marah Rusli, maka kita mendapatkan pesan bahwa sosok manusia itu tidak bisa dipisahkan secara simpel hitam dan putih, baik dan buruk, sesimpel logika biner atau dikotomi seperti itu.

Ada dua tokoh laki-laki pada novel tersebut, yaitu Datuk Maringgih dan Samsul Bachrie. Mungkin banyak pembaca yang tidak suka karakter Datuk Maringgih, tetapi dikisahkan pada novel tersebut dia memimpin perjuangan rakyat melawan penjajah Belanda.

Sebaliknya, banyak yang bersimpati kepada Samsul Bachrie, tetapi setelah merantau ke Batavia dia ke-Belanda-belanda-an dan bahkan jadi tentara Belanda yang memerangi perjuangan rakyat.

Jadi mana yang lebih baik diantara kedua laki-laki tersebut?

Itulah hebatnya Marah Rusli, yang pada tahun 1920-an mampu menampilkan potret manusia bahwa kita itu tidak hitam-putih.

Saya, Anda, dan siapapun juga, punya sisi kebaikan, dan juga sisi kelemahan.

Konon manusia itu sempurna karena ketidaksempurnaannya.

16486942_783153705186652_4398858966407265827_o

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s