buku antologi puisi saya pertama “JENDELA”

img_0495

Alhamdulillah, akhirnya buku antologi puisi pertama saya selesai dan ikut serta meramaikan dunia puisi walaupun mungkin hanya sebuah titik dalam mozaik besar dunia puisi di Indonesia.

Beberapa sahabat di komunitas Dapur Sastra Jakarta mengatakan bahwa ini adalah semacam “skripsi” untuk “wisuda” saya sebagai penyair. Ah, tentu itu berlebihan, karena penyair adalah suatu profesi yang menurut saya sangat terhormat dan punya kedudukan penting dalam kebudayaan suatu bangsa. Sementara itu saya masih menatapi jalan setapak yang belum kelihatan ujungnya.

Jadi kalau ada yang bertanya, apakah si Riri seorang penyair atau sastrawan? Jawabnya tentu tidak! Profesinya adalah seorang konsultan manajemen, bisnis dan sistem informasi, yang kebetulan menyukai dunia sastra terutama puisi dan mencoba-coba nekad menulis puisi .. hehe ..

Jadi kalau ada yang mengatakan saya adalah penyair karbitan atau orang yang mencari sensasi di dunia puisi, tentu itu tidak benar. Mengapa? Karena saya memang bukan penyair. Panggung saya adalah dunia manajemen, bisnis dan sistem informasi, baik sebagai konsultan profesional, maupun sebagai dosen. Itulah panggung saya!

Well, tetapi tidak ada salahnya juga kalau saya menyenangi dunia sastra, terutama puisi? Apalagi jika puisi itu menjadi suatu gerakan kolektif untuk suatu tujuan positif seperti gerakan “Puisi Menolak Korupsi”, “Memo Anti Terorisme”, dan sebagainya. Ya nggak?

Antologi ini saya namai “Jendela”. Mengapa saya beri nama begitu? Saya merasa kumpulan puisi yang ada pada buku ini merupakan hasil penerawangan saya melalui berbagai jendela kehidupan. Saya ibarat berada di sebuah ruangan dengan banyak jendela di mana setiap jendela memperlihatkan dimensi yang berbeda dalam kehidupan.

Pada buku antologi ini, saya mengumpulkan puisi yang saya tulis sejak tahun 2007 sampai 2016. Proses mengumpulkan puisi ini cukup menarik, karena media penulisannya tersebar, kecuali sejak tahun 2013 yang tersimpan rapi di blog pribadi.

Tentu saja, semua tulisan ini tentu merupakan kumpulan refleksi batin dari apa yang saya amati dan rasakan pada kehidupan sehari-hari.

Saya mulai menulis puisi sejak duduk di bangku SMP dan berlanjut sampai SMA. Perjalanan hidup saya, baik pendidikan maupun karir, jauh dari sastra ataupun seni pada umumnya. Itu mungkin yang menyebabkan saya vakum menulis puisi selama 19 tahun antara tahun 1988 sampai 2007.

Pada tahun 2007, saya kembali menulis puisi, walaupun terasa kagok untuk menulis kembali. Pada kurun waktu 2007 – 2013 saya menulis puisi di blog pribadi dengan menggunakan beberapa nama pena.

Pada suatu kesempatan, sahabat saya seorang penyair senior, Mas Sosiawan Leak, pernah mengatakan bahwa saya adalah orang yang tersesat ke dunia sastra, dan terus semakin tersesat. Mungkin ada benarnya, tetapi saat ini saya memang merasa tidak bisa dipisahkan dari dunia sastra.

Saat ini (sejak tahun 2013) saya menulis puisi dan tulisan singkat seputar sastra lainnya di blog pribadi serta sebagian di Facebook dengan identitas sebagai seorang Riri Satria. Saya kembali menemukan dunia yang sempat hilang dan menikmatinya kembali.

img_0484

Proses menulis puisi yang saya lakukan sangat sederhana, yaitu menuliskan apa yang terlintas dalam pikiran dan terasa dalam batin. Pokoknya menulis saja. Ya, sesederhana itu.

Hidup saya berada di dunia yang “kurang nyeni”, yaitu konsultan, akademisi dan peneliti di bidang manajemen, ekonomi dan teknologi informasi, yang jauh dari sastra. Jadi, saya lebih banyak berada di dunia ilmiah, apalagi saya juga mengasuh mata kuliah Metodologi Penelitian dan Penulisan Ilmiah di program S2 Magister Teknologi Informasi, Fakultas Ilmu Komputer, Universitas Indonesia.

Namun menurut saya, menulis analisis ilmiah, populer, prosa, maupun puisi, sebenarnya memiliki prinsip yang sama, yaitu fokus pada satu topik, memiliki daya gugah yang tinggi, serta menggunakan kalimat yang efektif dan efisien. Hanya saja, penulisan ilmiah dan populer non-fiksi dimulai dari suatu penalaran atau analisis yang sistematis dan dikemas sedemikian rupa dalam bentuk tulisan yang argumentatif.

Berbeda dengan puisi (atau karya sastra pada umumnya) dimulai dari suatu pengalaman batin yang dituangkan ke dalam tulisan yang menusuk kepada perasaan. Tetapi walaupun berbeda, semua tulisan tersebut harus memiliki daya gugah yang tinggi supaya diapresiasi oleh pembacanya.

Saya mengalami sendiri bahwa tidak mudah melepaskan pengaruh gaya penulisan ilmiah yang dimulai dari penalaran, menjaga keterurutan logika, dan argumentatif ke dalam gaya penulisan puisi. Kritik dari beberapa sahabat pun mengatakan hal yang sama.

Menurut sahabat saya di komunitas Dapur Sastra Jakarta, penyair senior Remmy Novaris, sebenarnya dengan kekayaan disiplin ilmu lainnya, semua istilah yang ada bisa memperkaya puisi. Jadi puisi tidak hanya persoalan daun, pantai dan lautan, bulan dan matahari, tapi juga garis-garis linier dan horisontal dalam grafik, prosentase dan lainnya, kondisi sesial ekonomi, relativitas fisika, dan sebagainya. Bahkan banyak penyair yang berhasil karena memiliki kemampuan eksakta yang kuat. Menarik bukan?

Antologi “Jendela” ini adalah buku puisi tunggal saya yang pertama. Tentu saya berharap ini bukan yang terakhir. Hidup itu adalah puisi yang yang tak pernah selesai. Jadi, seharusnya kita tak kekurangan bahan untuk menulis puisi.

Saya mengucapkan banyak terima kasih kepada berbagai pihak atas terbitnya buku antologi ini, terutama para penyair senior tempat saya berdiskusi, Bang Remmy Novaris DM (Dapur Sastra Jakarta), Mas Driya Widiana alias Didiek Soepardi (Kumandang Sastra Semarang), Mas Sosiawan Leak (Forum Sastra Surakarta), Bang Jose Rizal Manua (Teater Tanah Air), Mbak Nunung Noor El Niel (Dapur Sastra Jakarta), para akademisi Dr. Umi Salamah (IKIP Budi Utomo dan Universitas Brawijaya) dan Dr. Sunu Wasono (Universitas Indonesia), serta para sahabat di komunitas Dapur Sastra Jakarta, Kumandang Sastra Semarang, Memo Penyair, dan Puisi Menolak Korupsi.

Secara khusus saya mengucapkan terima kasih kepada sahabat saya Bang Remmy Novaris DM yang berkenan menjadi editor, serta Dewi Salistiawati yang telaten memindahkan kumpulan puisi saya dari blog pribadi ke format dokumen.

Ucapan terima kasih penuh rasa sayang saya sampaikan kepada anak perempuan saya, Nadya Emirah Dwiputri, (13 tahun), seorang pelukis muda berbakat, di mana lukisannya yang berjudul “Dari Balik Jendela” menjadi cover depan buku ini.

Ucapan terima kasih untuk semua sahabat di media sosial yang selalu memberikan komentar, masukan bahkan kritik untuk setiap tulisan saya.

Terakhir, terima kasih juga untuk penerbit Teras Budaya yang sudah menerbitkan buku antologi ini.

Ada satu tips yang selalu saya yakini dalam menulis puisi, yaitu tuliskan saja apa yang terasa di pikiran dan hati, apapun itu.

hidup itu adalah perjalanan
berteman semangat dan gairah
istirahat sejenak adalah perenungan
berteman tafakur dan keheningan

kehidupan itu merangkai kisah
yang tak pernah putus
ada hangat dan bahagia
ada air mata dan nestapa
ada hitam dan putih
ada siang dan malam
ada terik dan hujan

hidup ibarat menulis bait puisi
yang panjang tak pernah selesai

Salam sastra dan kreatif!

Cibubur, 12/08/2016
Riri Satria

img_0474

Advertisements

5 thoughts on “buku antologi puisi saya pertama “JENDELA”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s