Antologi Palagan Sastra DSJ

12924592_617804701721554_8666420023145681051_nKembali komunitas Dapur Sastra Jakarta (DSJ) menerbitkan buku antologi puisi yang berisikan kumpulan puisi pada anggotanya. Judul antologi puisi kali ini adalah “Palagan Sastra” yang berisikan karya 65 penyair DSJ.

Ini adalah antologi ketiga yang diterbitkan oleh DSJ, setelah Pinangan (2013) dan Metamorfosis (2014). Penerbitan Palagan Sastra ini agak terlambat, karena sejatinya terbit pada tahun 2015 yang lalu.

Seperti pada penerbitan antologi sebelumnya, penyair senior Remmy Novaris DM bertindak sebagai editor buku ini. Buku ini memiliki ISBN : 978-602-1226-52-0.

12829307_10206339094662353_5049109853265452329_o (1)

Pada antologi Palagan Sastra ini, ada tiga puisi saya, yaitu “Menunggu Pagi“, “Lagu dan Puisi yang Belum Selesai” serta “Loh?“.

Oh ya, jika pada tahun 2013 saat antologi Pinangan diterbitkan, saya baru mengenal komunitas DSJ, lalu pada tahun 2014 puisi saya dimuat pada antologi Metamorfosis yang merupakan publikasi puisi pertama saya dalam bentuk buku, maka pada tahun 2016 ini saat antologi Palagan Sastra diterbitkan, saya merupakan salah satu admin grup DSJ di media sosial Facebook.

Berikut ini cuplikan catatan yang dibuat oleh Eddy Pranata PNP, salah satu tokoh Mimbar Penyair Abad-21 di Taman Ismail Marzuki tahun 1996 tentang buku antologi Palagan Sastra ini. Cuplikan yang membahas tentang saya ini disalin dari Facebook beliau. Terima kasih Bang Eddy.

Dari Palagan Sastra; saya mengamati ada beberapa nama dari generasi baru DSJ yang mengkilat. Beberapa nama seperti Riri Satria, Zahra Vee, Riswo Mulyadi, Misqueni Pearl, Tiena Al Wien, Emil Na Rasyid, Bayu Winarno dan Aisyah Asafid Abdullah. Puisi-puisi mereka punya daya ungkap yang berbeda memang, tetapi secara kualitas sangatlah menyenangkan. Di antaranya sudah ada yang nampak menemukan daya ungkap yang khas dan keutuhan puisinya terjaga.

Riri Satria pada puisinya berjudul Lagu dan Puisi yang Belum Selesai, pemilihan kata/bahasa mengalir bagus. Pergulatannya dengan Lagu dan Puisi yang pernah dialami bertahun sebelumnya, tiba-tiba muncul kembali ketika gerimis hujan di tengah malam. Begini ungkapnya: //../ Ternyata puisi itu masih ada!/ dan lagu itu setia menemaninya!/ walau sudah lama terlupakan/..//

Penggunakan tanda seru (!) di akhir baris pada puisinya menandaskan ungkapannya. Bahwa itu adalah keadaan yang benar terjadi dan telah menyadarkannya. Pada puisi lainnya Menunggu Pagi, Riri Satria menuangkan bagaimana kenangan indah mengapung; //../ tapi sungguh kau hidup di ruang hatiku/ saat menjelang pagi kisahmu kutulis jadi puisi/..//. Lalu pada puisi Loh?, Riri coba mencatat dan mempertanyakan peristiwa sosial yang terjadi di sekitarnya: //../ loh, gimana sih?/ heran?/ atau pura-pura heran?/ katanya ekonomi bertumbuh/ kok masih banyak yang miskin?/..// Penggunanaan tanda tanya (?) dalam puisinya menegaskan pertanyaannya pada realitas sosial yang ada di sekeliling kehidupannya.

Terima kasih untuk semua sahabat DSJ …

Salam sukses selalu
Riri

12919865_617788601723164_6489078722008374397_n

 

Advertisements

2 thoughts on “Antologi Palagan Sastra DSJ

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s