sunyi

menjelang tengah malam sehabis gerimis
perempuan itu menelusuri lorong sunyi

angin malam menemaninya di jalanan basah
menyibak nakal rambutnya yang panjang
menebar rasa dingin di sekujur tubuhnya
ah, hanya angin yang menemani sunyinya

ada warna-warni lampu jalan
ada dentuman suara musik terdengar
ada gelak tawa orang di pinggir jalan
ada kepulan asap rokok menghangatkan malam
tetapi dia dipeluk dan diperkosa sunyi
tak kuasa meronta melepaskan diri

tak ada yang tahu suara hatinya
batinnya menangis!
hidup ini tidak adil!
kebenaran dibungkam!
kezaliman meraja-lela!
orang munafik bebas tertawa!

apakah dewi keadilan berselingkuh
dengan bandit jalanan?

apakah dewi cinta berselingkuh
dengan penjahat malam?

jangan-jangan
kebenaran itu hanya impian
keadilan itu hanya utopia
cinta hanya khayalan

dengan mata terpejam dia bertanya
mengapa keadilan selalu ada di jalan sunyi?

(jakarta – 19/12/2015)

13738077_666305496871474_5444105155992440701_o

Puisi ini mendapatkan apresiasi “Pilihan Editor” atau “Highlight” pada rubrik Fiksiana-Puisi di Kompasiana, 9 Juli 2017.

Advertisements

3 thoughts on “sunyi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s