Ruang si Penulis

IMG_4645

Tulisan pendek ini terinspirasi oleh sebuah sesi diskusi pada Ubud Writers and Readers Festival (UWRF) 2015 tadi siang (29/10/2015) yang berjudul “The Writer’s Room”. Topik yang dibahas sebenarnya tidak berat, termasuk topik ringan, tetapi tetap saja menarik. Sesi ini menjawab bagaimana proses produksi sebuah tulisan terjadi.

Secara garis besar, proses penulisan itu terdiri dari tiga fase utama, yaitu (1) fase pengumpulan informasi atau ide, (2) fase kontemplasi atau pengendapan, serta (3) fase menuangkannya menjadi sebuah tulisan.

Pada fase pertama, yaitu pengumpulan informasi, ada dua pendekatan yang dipergunakan oleg para penulis, yaitu pendekatan “keramaian” serta pendekatan “kesunyian”.

Pada pendekatan “keramaian”, seorang penulis mencoba untuk mengamati berbagai realita kehidupan sehari-hari dengan segala hiruk-pikuknya, bahkan penulis yang handal mampu mengamati dialektika sosial yang terjadi di masyarakat. Penulis yang melakukan pendekatan “keramaian” seperti ini biasanya menghasilkan tulisan-tulisan yang dekat dengan permasalahan atau wacana sosial yang muncul di masyarakat. Bentuknya bisa mengapungkan suatu realitas sosial yang “tersembunyi” di masyarakat, menggagas ide-ide atau pemikiran baru sebagai alternatif terhadap ide atau pemikiran mainstream saat ini, memberikan solusi-solusi terhadap berbagai persoalan sosial pada masyarakat serta berbagai bentuk kontribusi lainnya.

Sementara penulis yang memilih jalan “kesunyian” cenderung untuk bermain di tingkat abstrak, perenungan, menggunakan alam semesta dan lingkungan hidup untuk menggugah berbagai pemikiran, dan sebagainya. Pada fase ini si penulis membutuhkan “ruang” untuk menyendiri.

Di samping kedua pendekatan di atas tentu saja banyak penulis yang menempuh kedua jalan tersebut. Penulis yang mampu melakukan ini biasanya menghasilkan tulisan yang dekat dengan realitas sosial dilengkapi dengan berbagai abstraksi untuk memperkuatnya.

Pada fase kedua, para penulis melakukan kontemplasi atau pengendapan isu-isu atau topik yang menarik perhatiannya ke dalam ruang batin. Di sini terjadi proses intelektual, proses pro dan kontra, proses analisis, dan semuanya terjadi di dalam diri si penulis. Para proses inilah biasa seorang penulis membutuhkan ruang privat melakukan kontemplasi atau pengenapan. Ini dibutuhkan agar dia bisa melihat dengan jernih isu-isu atau wacana yang muncul berkaitan dengan topik yang dibahasnya.

Sementara itu pada fase terakhir, yaitu menuliskannya, seorang penulis menuangkan semua hasil pada proses kedua sebelumnya ke dalam bentuk tulisan, apakah fiksi atau tidak, prosa atau puisi, dan sebagainya. Sama dengan proses kedua, pada fase ini biasa seorang penulis membutuhkan “ruang” privat untuk menulis. Kata-kata “ruang” ditaruh dalam kutipan karena maknanya belum tentu sebuah ruangan, bisa juga alam bebas, atau bahkan di sebuah kafe di mana orang ramai tetapi dia sanggup menyendiri.

Saya mencoba untuk menganalisis kebiasaan saya dalam menulis dan ternyata memang mengikuti ketiga pola generik tersebut.

Kegiatan menulis buat saya terbagi atas tiga kategori. Pertama, menulis ilmiah sebagai hasil penelitian yang dimaksudkan untuk dibawakan pada sebuah konferensi ilmiah atau dimuat di jurnal ilmiah. Kedua, menulis populer, biasanya untuk dimuat di media massa atau setidaknya blog pribadi saya. Biasa saya membahas topik-topik populer di bidang manajemen, bisnis, ekonomi dan sosial kemasyarakatan. Ketiga, menulis puisi. Ketiga kategori tersebut memiliki pola generik yang sama untuk menghasilkan tulisan, walaupun pada prosesnya memiliki sentuhan dan detail yang berbeda.

Khusus untuk fase pertama dan kedua, saya tidak bisa dilepaskan dari buku atau referensi. Itulah sebabnya pada fase pertama dan kedua, saya harus berada di sebuah ruangan di mana tersedia banyak buku-buku atau dokumen lainnya sebagai rujukan atau setidaknya koneksi ke internet sehingga saya bisa menelusuri internet untuk mencari berbagai rujukan.

Itulah sebabnya ketersediaan buku-buku dan koneksi internet menjadi kebutuhan buat saya. Dengan demikian, saya jadi paham mengapa saya punya kecenderungan membuat sebuah perpustakaan pribadi di ruang kerja saya di rumah dan tentu saja broadband internet dengan kecepatan tinggi.

Satu lagi, saya kalau menulis harus melihat alam bebas, kalaupun bukan berada di ruang terbuka, setidaknya ada jendela besar untuk melihat ke luar. Saya tidak bisa berpikir di dalam ruang tertutup.

Satu lagi, biasanya saya ditemani oleh secangkir kopi panas kalau menulis.

Salam.
Riri

906655_336700646498629_5215860734543650680_o

10403802_391885254313501_5359730311244534370_o

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s