Makna Belajar dalam Budaya Minang

Pada suatu kesempatan pada tahun 2012 yang lalu, saya berbincang santai dengan seorang tetua adat di Ranah Minang, sosok yang dianggap bijaksana dalam lingkungan kampung kami.

Beliau tidak berpendidikan tinggi, tetapi sangat arif dan bijaksana. Ibarat pepatah mengatakan, sosok ini adalah pai tampek batanyo, pulang tampek babarito (didatangi untuk bertanya sesuatu, dan pulang dengan solusi yang harus dikabarkan kepada masyarakat banyak).

Saat itu, kami memperbincangkan tentang pendidikan, ya sesuai dengan salah satu profesi saya sebagai dosen, dan ternyata beliau pun memiliki wawasana yang luas mengenai pendidikan, yang tentu saja berkaitan dengan budaya Minangkabau.

Menurut beliau, orang Minang itu memiliki banyak tempat belajar untuk hidupnya. Sejatinya kita semua belajar dari berbagai tempat, yaitu sakola (sekolah), surau (mesjid), galanggang (gelanggang), dan pasa (pasar).

Di atas semua itu, kita harus mampu belajar dari semua yang ada di dalam, karena pepatah Minang mengatakan bahwa alam takambang jadi guru.

Proses belajar pun harus tuntas, tidak boleh setengah-setengah, karena berguru kapalang ajar, bagai bungo kambang tak jadi.

Apakah yang dimaksud dengan sakola (sekolah)? Ini adalah simbol yang mengatakan bahwa belajar itu berarti menggali ilmu pengetahuan (science).

Sekolah adalah tempat kita mempelajari berbagai ilmu pengetahuan. Dengan demikian belajar berarti menambah atau memperluas ilmu pengetahuan.

Lalu bagaimana dengan surau (mesjid)? Ini adalah simbol yang mengatakan bahwa belajar itu berarti memperkaya batin dan spiritualitas, memahami konsep mengenai hal yang baik dan benar dalam kehidupan, merendahkan diri terhadap suatu ketentuan Yang Maha Kuasa yang mengatur alam semesta.

Adat Minang mengatakan bahwa adat basandi syarak, syarak basandi Kitabullah. Ini memberi pesan suatu keharmonisan antara perilaku di dunia dengan nilai-nilai yang ada dalam Kitabullah.

Berikutnya adalah galanggang (gelanggang). Ini adalah simbol yang mengatakan bahwa belajar itu berarti membuat fisik menjadi prima dan terlatih. Dalam budaya Minang tradisional, galanggang adalah tempat orang belajar melatih fisik (terutama belajar silat).

Seorang anak laki-laki di Minang wajib hukumnya pernah turun ke galanggang untuk mengasah kemampuan fisik dan nyali. Tetapi dalam zaman sekarang ini, tentu makna ini juga meluas ke semua lapisan masyarakat, termasuk perempuan.

Kemudian pasa (pasar). Ini adalah simbol yang mengatakan bahwa belajar itu juga perlu membekali diri dengan kemampuan bersosialisasi dan bermasyarakat.

Dalam budaya Minang tradisional, pasar adalah pusat aktivitas sosial masyarakat. Di pasarlah semua kalangan masyarakat bertemu, terjadi interaksi, tidak hanya aktivitas ekonomi seperti tawar-menawar dan jual-beli, melainkan juga aktivitas sosial seperti mampu berteman dengan baik, hidup saling berdampingan, mendamaikan orang berkelahi, dan sebagainya.

Termasuk dalam definisi pasar adalah lapau atau warung. Ini adalah tempat berkumpul sambil ย maota (ngobrol). Obrolan bisa yang ringan dan santai bahkan sampai yang serius. Lapau adalah tenpat melatih untuk berdebat dengan semua kalangan masyarakat, baik yang terdidik mauapun yang tidak, pokoknya dari semua kalangan masyarakat.

Jika di sekolah kita belajar berargumen dengan rasional, maka di lapau ini debat dan argumen tidak selalu rasional, bahkan lebih banyak tidak rasionalnya. Namun itu tetap sebuah kenyataan hidup yang harus dipelajari.

Terakhir perlu dipahami bahwa alam takambang jadi guru, artinya banyak pelajaran yang bisa ditarik dari alam semesta. Kita bisa mempelajari banyak hal dari perumpamaan-perumpamaan yang terjadi di alam. Kita harus memiliki kemampuan untuk memahami alam atau istilah kerennya saat ini adalah natural intelligence.

Jika disimpulkan, maka dalam budaya Minang itu makna belajar adalah (1) memperkaya ilmu pengetahuan, (2) memperkaya spiritualitas, (3) memperkaya kemampuan fisik, (4) memperkaya kemampuan bersosialisasi, serta (5) menempatkan diri sebagai bagian dari alam semesta.

Ternyata budaya tradisional kita pun memiliki filosofi yang tidak kalah tingginya. Saya yakin demikian pula dengan daerah lain di Indonesia, pasti memiliki nilai-nilai filosofi yang tinggi untuk kehidupan.

Pertanyaannya, sejauh mana kita mengetahui, memahami, dan menerapkannya?

Salam
Riri

Advertisements

2 thoughts on “Makna Belajar dalam Budaya Minang

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s