Catatan Ringan dari ASEAN Literary Festival 2015

14271041481975214449-1

Pada tanggal 15-22 Maret 2015 yang lalu diselenggarakan ASEAN Literary Festival (ALF) 2015 di Jakarta, tepatnya berlokasi di Taman Ismail Marzuki (TIM).

Ini adalah acara ALF yang kedua setelah yang pertama tahun 2014 yang lalu. Tetapi ini pertama kalinya saya mengikuti acara ALF ini. Saya tidak bisa mengikuti acara tahun 2014 yang lalu karena kebetulan sedang berada di luar kota Jakarta untuk suatu penugasan.

Menghadiri acara festival seperti ini memang menjadi sebuah pilihan buat saya untuk mendapatkan pencerahan di dunia sastra pada umumnya. Pada tahun 2013 dan 2014 yang lalu, saya pun menghadiri acara Ubud Writers and Readers Festival (UWRF) dan kemungkinan pada tahun 2015 ini juga akan ke Ubud menghadiri acara yang sama.

Silakan baca catatan kecil saya tentang UWRF tahun 2013 di sini (sekaligus perayaan ulang tahun UWRF yang ke-10) serta UWRF 2014 di sini.

Nuansa UWRF dan ALF memang sangat berbeda. Pada UWRF, nuansa internasional sangat terasa, bahkan saya merasa berada bukan di lingkungan Indonesia, hanya tempat pelaksanaan acara yang berada di Indonesia (tepatnya Bali). Setiap forum diskusi jumlah orang asing jauh lebih banyak daripada orang Indonesia. Saya justru merasa asing di acara UWRF ini.

Tetapi harus saya akui bahwa pembahasan topik di UWRF lebih berat dan komprehensif dibanding ALF. Ini mungkin disebabkan karena ALF masih baru pelaksanaanya.

Nah, di ALF, saya benar-benar merasa Indonesia. Pengunjung acara ini lebih banyak orang Indonesia dibandingkan dengan orang asingnya. Nuasanya Indonesia pun sangat kental dan saya pun dengan mudah mendapatkan teman-teman baru, dan memang banyak sahabat saya yang suka nongkrong di TIM.

Sayang sekali, saya tidak bisa mengikuti acara pembukaan pada hari Kamis tanggal 19 Maret serta acara hari Jum’at tanggal 20 Maret karena saya harus mengajar di kampus Universitas Indonesia di Salemba, di program S2 Magister Teknologi Informasi, Fakultas Ilmu Komputer.

Sebenarnya banyak topik diskusi menarik pada tanggal 20 Maret itu, tetapi apa boleh buat, tugas di kampus tentu tidak boleh ditinggalkan.

5555f0030423bd38538b4567

Saya sangat menikmati sesi diskusi pada Sabtu pagi, 21 Maret, yang berjudul “Literatures in Digital Era”. Ini adalah sebuah topik yang sangat menarik minat saya karena sejalan dengan bidang minat saya untuk meneliti dampak internet kepada masyarakat, baik dari sisi ekonomi dan bisnis, sosial kemasyarakatan, sampai dengan dunia sastra tentunya.

Acara ini dipandu oleh Dr. Saras Dewi, seorang doktor filsafat dan anggota Steering Board ASEAN Literary Festival 2015, serta Ketua Program Studi Ilmu Filsafat Fakultas Ilmu Budaya Universitas Indonesia.

Acara tersebut menampilkan penyair kawakan Indonesia, Saut Situmorang, penulis John Iremil Teodoro dari Filipina yang juga associate professor bidang sastra di Miriam College, serta pelaku bisnis toko buku di Jepang, Shintaro Uchinuma.

Saya sangat mengapresiasi insiatif Saut Situmorang yang memulai cyber-sastra di Indonesia pada tahun 2001 dengan menggunakan website sederhana. Saut mengisahkan bagaimana dia diejek berbagai pihak dulu saat memulainya. Banyak pihak yang mengatakan bahwa apa yang dilakukan Saut hanyalah “crap literature” atau “trash literature“.

Itu bisa dimaklumi karena sastra dianggap sebagai suatu dunia elit yang hanya dimiliki oleh sekelompok dewa. Dengan cyber-sastra, semua orang bisa mencoba untuk membuat produk sastra dan sastra pun berkembang tidak lagi hanya dimiliki kaum elit, melainkan juga dimiliki oleh semua orang. Intinya, literature for everyone.

Pergeseran paradigma itu juga diamini oleh John Teodoro. Perkembangan internet sudah mengubah paradigma itu dan akhirnya sastra memang milik semua orang. Apakah akan menurunkan kualitas produk sastra itu sendiri? Jawabannya tidak, karena produk sastra yang berkualitas akhirnya akan tersaring tersendiri dan memang punya dunia tersendiri. Tetapi yang pasti dunia sastra berpotensi menjadi dunia semua orang (yang mampu mengakses internet tentunya).

Menarik menyimak pemaparan Shintaro Uchinuma, di mana toko buku harus mengubah model bisnisnya pada era digital ini. Toko buku tidak hanya sekedar menjual buku, melainkan juga membangun komunitas pembaca dan menjadi event organizer untuk komunitas pembaca tersebut. Saya sependapat dengan hal ini. Intinya terjadi perubahan model bisnis.

Saya juga sharing beberapa pemikiran : … about the impact of internet to literatures .. It is not just merely transform paper-books to e-books. There are two critical issues, first, the paradigm shift (like authorship, not only exclusive but also crowd-authorship) and second, the community building (virtual and reality) in literature. There are three forms of community building, (1) bonding (exclusive), (2) bridging (inclusive) and (3) linking (inter-community). Literature is not an elite-domain anymore. It is opened to all society as long as they can access internet.

Ada satu lagi yang menarik. Apakah itu seorang penulis? Menurut John Teodoro, selama seseorang itu mampu menuliskan sesuatu yang bermakna, baik di media sosial maupun media mainstream, maka itu adalah seorang penulis.

Tetapi Saut Situmorang mengingatkan bahwa terdapat pemahaman pada masyarakat di mana seseorang baru diakui sebagai penulis apabila dia pernah mempublikasikan karyanya dalam bentuk media mainstream seperti buku, majalah, atau koran.

Saya sependapat dengan keduanya. John dan Saut sebenarnya sependapat, tetapi Saut mengingatkan masih banyak opini yang belum berhasil “move on” sesuai dengan perkembangan zaman di masyarakat kita.

5555f0040423bd38538b4568

Bagaimanakah perkembangan sastra di berbagai negara di Asia dan Afrika? Ini juga sesi diskusi yang menarik. Pada sesi “Challenges in a New World : Lessons Drawn from African and Asian Literature” ini menampilkan pembahas Idriss Bouskine dari Aljazair, Jamil Maidan dari Filipina, Amol Titus dari India serta U Maung Maung Oo dari Myanmar.

Intinya adalah, perkembangan sastra pun tidak akan terlepas dari perkembangan sosial politik di masyarakat.

Pada zaman peperangan, maka dunia sastra pun memiliki andil untuk membangkitkan ideologi dan nasionalisme.

Pada situasi yang lebih stabil maka sastra pun memberikan kritik terhadap kehidupan sosial masyarakat. Semua panelis mengatakan bahwa pada situasi pemerintahan yang lebih otoriter, maka dunia sastra pun menjadi dibatasi ruang geraknya dan memunculkan gerakan sastra alternatif “bawah tanah”.

Pada situasi globalisasi saat ini, dunia sastra di negara berkembang masih kesulitan untuk merambah dunia internasional karena kendala bahasa.

5555f0040423bd38538b4569

Sesi lain yang menarik buat saya adalah diskusi yang membahas dua penyair top Indonesia di masa lalu, yaitu Chairil Anwar dan Sitor Situmorang. Pembahas yang tampil adalah dua sastrawan kawakan Indonesia yaitu Joko Pinurbo dan Hasan Aspahani, dipandu oleh Damhuri Muhammad, dosen Fakultas Ilmu Budaya Universitas Indonesia.

Walaupun membahas ini bukanlah dunia saya, tetapi saya sangat tertarik mendengar beberapa fakta sejarah yang disampaikan kedua pembicara.

Satu fakta penting adalah, ternyata Chairil Anwar tidak hanya berpuisi, melainkan juga ikut berperang di zaman perang kemerdekaan. Dia menjadi penyampai pesan kabar antara pimpinan nasional saat itu Bung Karno dan Bung Hatta dengan Bung Sjahrir yang memilih untuk ikut bergerilya. Chairil Anwar adalah keponakan Bung Sjahrir.

Cuplikan puisi Chairil Anwar yang berjudul “Krawang – Bekasi” :

kami bicara padamu | dalam hening di malam sepi | jika ada rasa hampa | dan jam dinding yang berdetak kenang,

kenanglah kami | teruskan, teruskan jiwa kami | menjaga Bung Karno | menjaga Bung Hatta | menjaga Bung Sjahrir

Pada acara ALF 2015 ini saya juga berkesempatan ngobrol dengan banyak sastrawan Indonesia yang selama ini hanya saya kenal di media atau hanya tulisan mereka.

Dari berbagai forum diskusi pada acara ASEAN Literary Festival 2015, saya menyimpulkan bahwa suatu karya sastra itu adalah ekspresi dan cipta karsa manusia yang bisa ditempatkan di salah satu atau beberapa ruang, yaitu (1) ruang idealisme dan pergerakan, misalnya pergerakan buruh, feminis, politik dan sebagainya, (2) ruang spiritualitas, serta (3) ruang komoditas ekonomi.

Dalam beberapa hal, sering terjadi pertentangan jika kita ingin memasukkannya ke dalam beberapa ruang sekaligus, misalnya, jika ingin menaruhnya di ruang komoditas ekonomi, maka harus “tunduk” kepada hukum pasar, sementara ruang idealisme dan pergerakan tentu lain lagi.

Saya juga menyimpulkan bahwa dalam konteks ekonomi kreatif (creative economy), dunia sastra Indonesia masih mencari bentuk. Banyak karya sastrawan Indonesia mendapatkan penghargaan internasional, artinya mutunya sangat bagus, tetapi banyak yang masih kesulitan menjualnya.

Menurut saya diperlukan suatu business model tersendiri untuk hal ini. Harus duduk bersama antara tokoh sastra, pelaku ekonomi seperti penerbit, serta ahli manajemen bisnis untuk memformulasikannya bersama.

5555f0040423bd38538b456a-1

Sama dengan acara UWRF di Ubud, para peserta datang ke ruang diskusi dengan pakaian bebas, tetapi semua menyimak jalannya diskusi dengan serius dan bahkan diskusi pun berjalan dengan kualitas pembicaraan yang tinggi. Sikap atau perilaku pembelajar lebih dikedepankan daripada artefak.

Terima kasih untuk semua pihak, panitia dan para pembicara, serta sahabat-sahabat yang saya temui pada acara ini. Saya sangat menikmati acara ini.

Salam
Riri

Advertisements

One thought on “Catatan Ringan dari ASEAN Literary Festival 2015

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s