an economy of words

ubud213

Tadi siang (3 Oktober 2014) saya mengikuti sesi “An Economy of Words” pada Ubud Writers and Readers Festival 2014 di Ubud – Bali. Menurut pengantar acaranya “Poets are the economist of words“. Sebuah puisi pada hakekatnya merupakan suatu kumpulan kata-kata yang juga memiliki “prinsip ekonomi” dan penyair itu bekerja ibarat “ekonom” dalam memakai kata-kata.

Sesi ini menampilkan sejumlah panyair dari berbagai negara dan juga dipandu oleh seorang penyair. Sesi ini menjadi sangat menarik karena setia panelis harus tampil membacakan puisi.

Para panelis adalah Emilie Zoey Baker (penyair dan juga guru dari Australia), Jesse John Brand (penyair dan musisi dari Australia), Regi Sastra Sena (penyair dari Sukabumi – Indonesia), Stephanie Dogfoot (penyair dari Singapura dan pernah juara poetry slam di Inggris), Abraham Nouk (seorang penyair yang merupakan pengungsi asal Sudan dan sekarang tinggal di Australia), dan sesi ini dipandu oleh Carlos Andrez Gomez (penyair asal New York, AS. dan sudah memiliki banyak penghargaan di dunia puisi).

ubud203

Apa maksudnya “economy of words“? ternyata puisi itu juga memiliki prinsip ekonomi dalam dua bentuk. Pertama, sebuah puisi adalah sekumpulan kata-kata yang singkat dan padat tetapi harus mampu menghasilkan daya gugah yang tinggi kepada pembaca ataupun pendengarnya. Prinsipnya singkat dan padat tetapi berdampak tinggi (high impact).

Kedua, sebuah puisi, ibarat kegiatan ekonomi, juga merupakan suatu proses transaksi antara tiga pihak, yaitu si penyair, lingkungan, dan pembaca atau pendengar. Bentuk transaksi yang terjadi adalah transaksi non-material, yaitu transaksi pemahaman dan penghayatan. Seorang penyair akan memotret suatu fenomena sosial apapun di masyarakat dan dia menuangkan ke dalam bentuk tulisan.

Lalu tulisan itu harus mampu memberikan daya gugah yang tinggi. Daya gugah itu diharapkan mampu menggerakkan sesuatu untuk masyarakat (mirip dengan konsep multiplier effect dalam ilmu ekonomi).

ubud204
Emilie Zoey Baker

Ketika diskusi memasuki tema apakah sebuah ada bedanya puisi yang dibuat for page (untuk dibukukan) dengan for stage (untuk ditampilkan di panggung), maka semua panelis mengatakan hampir tidak ada bedanya. Bedanya hanya tipis, yaitu ekspresi penghayatan di panggung tentu lebih terlihat.

Tetapi pada prinsipnya tidak ada beda, karena sebuah puisi adalah produk perenungan dan penghayatan, bukan hanya sekedar rangkaian kata-kata yang indah. Puisi ini harus bermakna dan sarat pesan yang ingin disampaikan yang kalau bisa langsung menusuk hati si pembaca atau pendengar sehingga mereka terkaget-kaget yang tersentak.

Sesi ini sangat menarik. Saya belajar banyak pada sesi ini, terutama pandangan para penyair dari berbagai negara tentang penulisan puisi yang padat dan menggugah.

Salam
Riri

Advertisements

3 thoughts on “an economy of words

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s