perempuan gerhana – nunung noor el niel

Sebenarnya buku kumpulan puisi “Perempuan Gerhana” oleh sahabat saya Nunung Noor El Niel ini sudah saya terima sejak tanggal 2 Juli 2014, sudah tiga minggu yang lalu. Tetapi baru sekarang saya menuliskan sedikit catatan terhadap buku ini.

Kesibukan yang luar biasa membuat waktu saya sangat terbatas sehingga membaca buku ini pun harus dicicil sepenggal demi sepenggal. Pada saat menulis catatan ini pun saya belum selesai membaca buku tersebut, tetapi sebagian besar sudah.

10519710_320421551459872_1464602155885717577_o

Ini adalah buku Nunung yang kedua yang saya baca. Buku pertamanya berjudul “Solitude”, terbit tahun 2013 yang lalu. Saya mendapatkan buku “Solitde” saat makan siang bersama Nunung di Denpasar Bali bulan Oktober 2013 yang lalu. Pada kesempatan singkat itulah saya mengenal Nunung, bagaimana pandangan dia terhadap dunia puisi, bagaimana puisi itu memaknai kehidupan, serta bagaimana puisi itu menjadi alat ekspresi si penulisnya.

Nunung ternyata memang sangat ekspresif dan ini terlihat dalam pemilihan kata-kata pada puisi-puisi karyanya yang kala tertentu bisa sangat tajam dan kadangkala sangat kontemplatif.

Saya mengenal Nunung pertama kali di Facebook, tepatnya di grup Dapur Sastra Jakarta (lihat grupnya di Facebook di sini). Dia adalah penulis puisi yang aktif. Bisa jadi dalam satu hari Nunung menulis beberapa puisi, dan saya pun menikmati semua tulisannya. Saya selalu di-tag di Facebook untuk setiap puisi yang ditulis Nunung, tetapi kalau tag ini saya approve, bisa-bisa timeline Facebook saya penuh dengan puisinya Nunung serta sahabat-sahabat sastra lainnya .. hehehe ..

Begitulah dunia media sosial di internet seperti Facebook menghasilkan suatu paradigma cybersastra, di mana suatu karya sastra dari siapapun dapat dipublikasikan, dibaca, dan dibahas oleh siapapun selama dia bisa terkoneksi ke internet.

Sebuah puisi yang menjadi pengantar pada buku “Perempuan Gerhana” ini sudah menggambarkan kepada kita siapa itu sosok Nunung.

pengantar nunung

Pada buku ini Nunung “berkisah” mengenai “lelaki”, ada “Lelaki Hujan”, “Lelaki Bayangan”, “Lelaki Pantai”, “Lelaki Tanpa Bahasa”, “Lelaki Imajinasi”, serta “Lelaki di Selangkangan Malam”. Menarik menyimak tuturan Nunung dalam serial “lelaki” ini, ada kekaguman, ada pujian, ada kerinduan, dan tentu saja ada kecaman dan juga kemarahan. Oh well, begitulah kira-kira wanita memaknai “lelaki”.

Ah, atau saya yang salah memaknai tulisan Nunung? Bisa jadi. Maklum saya bukanlah orang yang ahli di bidang per-puisi-an atau sastra secara umum. Saya hanya seorang penyuka dalam pengertian suka membaca dan sekaligus mencoba menulis dalam kapasitas saya yang lebih awam.

Oh ya, karena memang tinggal di Denpasar Bali, maka nuansa Bali pun tentu sangat terasa di buku ini. Banyak puisi yang menggunakan setting Bali, tetapi tetap berkisah sebagai sesuatu yang universal (menurut saya), dan hanya “meminjam” Bali sebagai suasana.

Tidak salah kalau puisi “Gerhana” menjadi judul buku ini. Saya merasakan suatu kontemplasi mendalam pada puisi yang satu ini, simpel tetapi terasa menggugah.

IMG_9702

Saya menangkap adanya suatu proses kontemplasi terhadap kehidupan pada diri Nunung berbentuk flip-flop antara dunia nyata dan imaginasi. Pada suatu saat dia langsung menukik membahas dunia secara jelas dan gamblang, tetapi di sisi lain Nunung banyak menggunakan bahasa pengandaian, kiasan, dan sebagainya.

Coba simak puisi “Gerhana” di atas. Nunung membuka dengan kiasan “rembulan” dan “matahari”. Tetapi pada bagian tengahnya, Nunung langsung bicara dengan jelas tanpa kiasan “impian adalah bunga kehidupan”. Terlihat pola flip-flop (ini istilah dalam ilmu teknik elektro yang menggambarkan situasi yang bolak-balik) pada hampir semua puisi Nunung (yang saya amati).

Tetapi di sinilah kita bisa menikmati puisi Nunung, artinya secara tak sengaja Nunung sering menjelaskan maksudnya pada tulisan tersebut, sehingga orang awam pun bisa mencoba menangkap maknanya.

Selamat berkarya terus sahabatku Nunung, selalu menyuarakan batin semesta melalui aksara.

Salam hangat selalu.
Riri

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s