Kontemplasi Keragaman

Pada minggu yang lalu, kita mengalami libur nasional dua kali. Pertama memperingati Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad SAW, lalu dua hari kemudian diikuti dengan Kenaikan Isa Al-Masih . Begitu beragam ajaran agama di negara ini, dan juga dunia ini. Tadi yang disebutkan baru dua.

Pemahaman saya yang sangat terbatas mengatakan bahwa sejatinya ajaran agama itu membawa ke arah kebajikan, menjadi rahmat untuk alam semesta (rahmatan lil ‘alamin) seperti kata ajaran agama Islam yang saya yakini, atau kehidupan yang damai penuh kasih seperti kata sahabatku beragama Nasrani.

Tetapi sejarah menunjukkan bahwa begitu banyak perang dan pertumpahan darah atas nama agama, atas nama Tuhan. Bahkan sejarah pun mencatat tidak sedikit pertumpahan darah terjadi dimulai dengan menyebut nama Tuhan yang sama.

Jika Tuhan menginginkan, niscaya Dia mampu hanya menciptakan manusia ini hanya dengan satu paradigma, satu keyakinan, satu agama, satu iman. Tetapi Dia menciptakan kita penuh keragaman dan juga (harus diakui) penuh perbedaan.

Jadi buat saya, keragaman dan perbedaan itu adalah sunnatullah atau kehendak Tuhan. Tugas kita adalah hidup berdampingan, saling memahami, saling menghormati. Tidak usah ada kebencian. Tidak usah merasa terusik jika ada umat agama lain atau tempat ibadah lain di sekitar kita.

Saya diberi kesempatan mengunjungi kota Jerusalem. Tentu saja saya beribadah di Masjidil Aqsa, tempat utama dalam kisah Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad SAW. Tetapi saya juga menyaksikan orang-orang beribadah di Tembok Ratapan, juga di Church of Nativity, mereka melakukan hal yang sama, berkomunikasi dengan Tuhan, dengan cara mereka.

Saya dan juga mereka, semua berdoa dan memohon yang terbaik untuk kehidupan walau dimunajatkan dalam bahasa dan cara yang berbeda. Di kota ini Tuhan menunjukkan keragaman itu dengan jelas dan gamblang.

Saya banyak punya sahabat yang sangat baik walau label agama kami berbeda. Di sisi lain, juga banyak orang yang mungkin tidak suka dengan saya walau label agama kami sama.

Ya, saya menggunakan kata-kata “label” karena tak ada yang tahu keimanan seseorang. Memiliki satu label yang sama, belum tentu pikiran kita sejalan.

Mungkinkah kita yang keliru menafsirkan firman Tuhan? Keterbatasan kita sebagai manusia yang membuat kita belum mampu menterjemahkan maksud Tuhan dan tercampur dengan persepsi dan ego diri kita?

Bahkan saya pun tidak berani mengklaim pendapat saya ini pasti benar. Tetapi setidaknya, itulah yang saya yakini saat ini.

Yang saya yakini, setinggi apapun ilmu kita, ada suatu keterbatasan yang membuat kita tidak mampu menterjemahkan semua maksud atau firman Tuhan secara utuh dan sempurna.

Yakin dengan ajaran agama masing-masing adalah suatu keharusan. Subyektifitas dalam memandang kehidupan dalam perspektif ajaran agama masing-masing adalah suatu keniscayaan.

Tetapi keinginan dan kemampuan untuk hidup berdampingan penuh kearifan memahami keragaman dan perbedaan juga merupakan pesan Tuhan.

Ah, ini hanyalah sebuah coretan singkat tentang pemahaman saya. Jika ini memang benar, maka itulah karunia Tuhan terhadap kemampuan perenungan dan pemikiran saya.

Jika ternyata salah, itu refleksi keterbatasan saya sebagai manusia. Ini hanyalah sebuah perenungan di antara hari-hari libur keagamaan seminggu yang lalu.

Cibubur – 29 Mei 2014.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s