jejak para penyair 80

ps01

Jum’at, 06 Desember 2013, saya menghadiri acara peluncuran buku Jejak Para Penyair 80 yang merupakan lima buku karya lima penyair senior Indonesia. Kelima penyair tersebut adalah Nanang Ribut Supriyatin, Endang Supriadi, Remmy Novaris DM, Humam S. Chudori, serta Pudwianto Arisanto.

Saya hadir karena diundang sahabat saya Bang Remmy Novaris DM yang juga salah satu dari lima penyair yang meluncurkan bukunya pada acara tersebut. Acara ini berlangsung di Pusat Dokumentasi Sastra H.B. Jassin di Taman Ismail Marzuki (TIM) Jakarta.

ps00d

Saya menyimak talk-show ringan yang diikuti oleh kelima penyair tersebut. Intinya, buat sebagian mereka, ini adalah kumpulan karya mereka sejak puluhan tahun yang lalu yang tersebar di berbagai media massa dan bahkan ada yang tidak pernah dipublikasikan.

Bahkan mereka pun sempat kelimpungan mencari kembali karya-karya mereka di masa lalu untuk dipublikasikan, belasan mungkin puluhan tahun setelah ditulis. Kecuali Bang Remmy Novaris, puisinya umumnya baru ditulis akhir-akhir ini.

Kelihatannya mereka sepakat bahwa karya-karya yang mereka hasilkan merupakan suatu refleksi terhadap kejadian yang mereka alami atau amati dalam kehidupan. Mungkin ini yang dimaksud oleh Mary Midgley dalam bukunya “Science and Poetry” (saya ulas di sini), di mana melalui puisi dan karya sastra lainnya, kita juga bisa menangkap fenomena yang terjadi dalam kehidupan.

Artinya, karya sastra pun bisa dipotret dalam kerangka ilmu pengetahuan (science) untuk menjelaskan suatu fenomena sosial.

ps00

Kelima penyair yang tampil pada acara ini memang para penyair kawakan. Mereka sudah banyak menghasilkan karya puisi dengan seabrek penghargaan.

Endang Supriyadi lahir di Bogor, 1 Agustus 1960 dan sudah menulis puisi sejak tahun 1983, meluncurkan buku “Meditasi”.

Sementara itu Humam S. Chudori menulis puisi sejak tahun 1970-an dan buku yang diluncurkan pada acara itu berjudul “Perjalanan Seribu Airmata” yang sangat kental nuansa relijiusnya.

Pudwianto Arisanto lahir 25 Juni 1955 sangat unik, dan meluncurkan buku “Similikiti” dan puisi-puisinya rada nyeleneh tetapi menarik juga sarat kritik.

Nanang Ribut Supriyatin lahir 6 Agustus 1962 dan meluncurkan buku “Apologia” berisikan puisi-puisi yang merefleksikan berbagai hal mengenai kehidupan.

Penyair kelima adalah sahabat saya Remmy Novaris DM yang meluncurkan buku “Dongeng Para Penyair” dan beliau menulis puisi sejak tahun 1976. Bang Remmy juga menjadi promotor acara peluncurkan buku ini.

ps24

ps20

Saya selalu menikmati acara bernuansa sastra seperti ini, bahkan secara khusus saya menghadiri Ubud Writers and Readers Festival di Ubud – Bali pada bulan Oktober 2013 yang lalu yang mendiskusikan banyak karya sastra.

Dunia keseharian saya yang sarat dengan ilmu pengetahuan dan penelitian, baik sebagai konsultan maupun akademisi memperoleh suatu keseimbangan pada dunia sastra ini.

Salam
Riri

ps09

ps11

ps14

ps06

ps17

Advertisements

One thought on “jejak para penyair 80

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s