pada suatu malam yang hujan di bulan november

“Izinkan aku pergi”, katamu. “Keputusanku sudah mantap. Aku akan memulai hidupku kembali”, ungkapmu.

Aku hanya terdiam, tidak menjawab ucapanmu. Hujan terus menerpa kaca mobil kita malam itu. Tak terasa dingin perlahan mulai menghampiri. Lagu November Rain masih mengiringi perjalanan kita malam itu.

lovers always come and lovers always go
and no one’s really sure who’s lettin’ go today
walking away

and it’s hard to hold a candle
in the cold November rain

“Bukankah hidup ini penuh pilihan?” demikian tanyamu. “Seperti yang pernah kau ucapkan padaku”, katamu mengingatkanku. “Bukankah kau lebih tahu soal teori kehidupan?” lanjutmu.

“Perjalanan kehidupan memang penuh misteri, sahabatku. Bahkan manusia pun belum mampu memahami sang waktu. Kita berjalan di lorong pilihan dimensi kejadian”, kataku padamu. Kau pun diam, hening tanpa suara.

do you need some time, on your own, all alone
everybody needs some time, on their own
don’t you know you need some time, all alone

“Ya, dan inilah pilihanku” jawabmu padaku. “Mungkin tidak mudah untukmu memahami pilihanku. Kau tetaplah sahabat terbaikku”, ucapmu tersenyum padaku.

“Aku sudah tak bisa lagi memberikan pendapatku”, jawabku. “Semua pandanganku sudah kau dengarkan. Sebagai sahabat, aku sungguh mengkhawatirkanmu”, jawabku sambil metatap matamu.

i know it’s hard to keep an open heart
when even friends seem out to harm you
but if you could heal a broken heart
wouldn’t time be out to charm you

“Jangan khawatir padaku”, kau berbisik di telingaku. “Ini adalah pilihanku. Ini adalah jalanku”, katamu, dan sebuah kecupan hangatmu singgah di pipiku.

“Terima kasih selama ini sudah mau jadi sahabatku”, lanjutmu. “Sungguh, bersamamu selama ini sangat berarti buatku.

Tetapi izinkanlah aku memilih dan memulai lembaran baru hidupku”, katamu dengan lirih menatapku.

Walaupun lirih, aku lihat ada senyum di wajahmu, mungkin mencoba meyakinkanku.

“Ya, sahabatku, aku yakin dengan keputusanmu”, aku pun tersenyum kepadamu, menyakinkanmu. “Tempuhlah jalanmu, kau kan abadi di ruang hatiku” ..

(jakarta, 2009)

Advertisements

2 thoughts on “pada suatu malam yang hujan di bulan november

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s