Bagaimana saya menulis puisi?

Buat saya, menulis analisis ekonomi atau bisnis yang kompleks jauh lebih mudah daripada membuat bait-bait puisi. Tentu saja puisi yang saya maksud di sini bukanlah sembarang puisi, melainkan puisi yang punya daya gugah tinggi, apapun topiknya.

Oh ya, supaya tidak membingungkan, ada baiknya saya jelaskan dunia saya terlebih dahulu. Saya adalah seorang konsultan dalam masalah manajemen, organisasi, digital economy serta teknologi informasi. Saya juga tertarik dengan ekonomi gelombang ketiga yaitu ekonomi berbasis pengetahuan, serta ekonomi gelombang keempat yaitu ekonomi kreatif.

Di samping itu saya juga ikut serta mencerdaskan bangsa dengan memberi kuliah di sebuah kampus, tepatnya di sebuah fakultas yang berkaitan dengan sains dan teknologi. Tetapi entah kenapa, saya sering dapat tugas pada kuliah yang membahas aspek sosial budaya dari ekonomi dan teknologi.

Dengan demikian, saya tidak memiliki latar belakang apa-apa di bidang puisi (apalagi sastra) selain hanya seorang penyuka dan mencoba-coba untuk menulis.

Nah, kembali ke pokok bahasan. Menurut saya, menulis analisis ilmiah, populer, prosa, maupun puisi, sebenarnya memiliki prinsip yang sama, yaitu fokus pada satu topik, memiliki daya gugah yang tinggi, serta menggunakan kalimat yang efektif dan efisien. Hanya saja, penulisan ilmiah dan populer non-fiksi dimulai dari suatu penalaran atau analisis yang sistematis dan dikemas sedemikian rupa dalam bentuk tulisan yang argumentatif.

Berbeda dengan puisi (atau karya sastra pada umumnya) dimulai dari suatu pengalaman batin yang dituangkan ke dalam tulisan yang menusuk kepada perasaan. Tetapi walaupun berbeda, semua tulisan tersebut harus memiliki daya gugah yang tinggi supaya diapresiasi oleh pembacanya.

Saya mengalami sendiri bahwa tidak mudah melepaskan pengaruh gaya penulisan ilmiah yang dimulai dari penalaran, menjaga keterurutan logika, dan argumentatif ke dalam gaya penulisan puisi. Kritik dari beberapa sahabat pun mengatakan hal yang sama.

Saya mengalami kesulitan dalam pemilihan kata-kata karena bahasa puisi lebih bebas walaupun pemaknaan tetap penting. Tetapi puisi tidak perlu tunduk kepada tata bahasa yang baku serta pemaknaan menurut suatu disiplin ilmu. Pemaknaan kata pada puisi sangat berbeda dengan tulisan ilmiah.

Ada sahabat yang mengatakan saya boros dalam menggunakan kata-kata dalam menulis puisi. Bisa jadi benar. Ini pengaruh paradigma penulisan ilmiah yang argumentatif dan kalimat-kalimat harus mampu saling menjelaskan. Padahal dalam puisi, kita sering melepaskannya kepada imaginasi si pembaca dan tidak perlu ada penjelasan. Berbeda bukan?

Sering kedua paradigma ini “berperang” di dalam ruang pikiran saya saat menulis. Apakah otak kiri dan otak kanan saya sedang “berperang”? Entahlah. Suatu tes psikologi yang pernah saya ikuti menyimpulkan bahwa otak kiri (analitis, sistematis, logika) saya sedikit lebih dominan daripada otak kanan (lateral, kreatif, rasa), alais keduanya nyaris seimbang.

Jadi, jangan heran kalau saya merasa sulit membuat puisi dan hasilnya masih masih terlihat “awam”. Jujur saja, menulis analisis ekonomi yang penuh angka-angka jauh lebih mudah buat saya.

Menurut sahabat saya, Remmy Novaris, seorang penyair senior yang saya kenal di Dapur sastra Jakarta, logika di dalam puisi juga sebenarnya sangat ketat. Sering disebut logika puitika. Ada juga istilah lisensia puitika. Sebenarnya dengan kekayaan disiplin ilmu lainnya, semua istilah yang ada bisa memperkaya puisi. Jadi puisi tidak hanya persoalan daun, bulan dan matahari, tapi juga garis-garis linier dan horisontal dalam grafik, prosentase dan lainnya. Bahkan banyak penyair yang berhasil karena eksakta yang kuat. Nirwan Dewanto misalnya sarjana Geologi dari ITB Bandung.

Menarik bukan?

Walaupun demikian, tulisan apapun itu, baik tulisan ilmiah, populer, bahkan sampai tulisan sastra seperti prosa dan puisi, kekuatannya terletak kepada daya gugah yang diciptakan terhadap pembacanya. Jika tulisan itu berhasil “mengusik” si pembaca, setidaknya tulisan itu sudah berhasil di fase pertama. Berikutnya tentu terkait dengan tindak lanjut yang akan dilakukan si pembaca tersebut.

Ada satu tips yang selalu saya yakini dalam menulis puisi, yaitu tuliskan saja apa yang terasa di pikiran dan hati, apapun itu.

Biasanya sebuah puisi lahir dari suatu “rasa” yang muncul dalam batin. “Rasa” itu bisa berbentuk suatu kekaguman atau keprihatinan atas sebuah fenomena alam atau sosial kemasyarakatan. Saya membebaskan tangan saya menulis atau mengetik bait-bait kata itu seperti apa yang ada dalam pikiran. Tidak ada proses memikirkan tata bahasa atau aspek bahasa lainnya. Nanti setelah semua itu selesai, barulah diperiksa kembali dan aspek tata bahasa mendapatkan perhatian, tanpa mengubah struktur dari puisi tersebut.

Setiap orang tentu memiliki cara mereka masing-masing.

Salam
Riri

Update : Saya mendapatkan inspirasi dari sesi diskusi tentang puisi pada Ubud Writers and Readers Festival 2014 di Ubud – Bali. Judul sesinya “An Economy of Words”, silakan baca ulasannya di sini.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s