dapur sastra jakarta

Pada awal Maret 2013, saya berkenalan dengan beberapa penyair yang tergabung dalam komunitas Dapur Sastra Jakarta. Saya diajak oleh sahabat saya si Merpati Liar alias Wild Dove alias Ling ngumpul dengan mereka.

602783_141810302654332_2111774596_n

Komunitas ini baru saja menerbitkan buku yang berjudul “Kumpulan Puisi Pinangan : Karya 35 Penulis dari Dapur Sastra Jakarta”. Sahabat saya Si Wild Dove tergabung ke dalam komunitas ini serta salah satu dari 35 penulis yang karyanya dimuat dalam buku tersebut. Komunitas ini independen dan tidak terikat dengan pihak manapun. Menarik untuk menyimak tagline mereka, yaitu “menulis fiksi dengan data, bukan sebagai fakta, tetapi imajinasi”.

208613_141810385987657_927576558_n

Obrolan santai dan hangat itu berlangsung di sebuah kafe di Taman Ismail Marzuki (TIM), tempat berkumpulnya komunitas pekerja seni di Jakarta. Satu hal yang saya amati dari para penyair ini, mereka terlihat sangat menikmati hidup dan penuh kegembiraan, walaupun menyimpan kegelisahan mengenai berbagai hal terutama sosial kemasyarakatan.

Kegelisahan itulah yang umumnya mereka tuangkan ke dalam tulisan-tulisan, baik dalam bentuk prosa maupun puisi, dengan maksud supaya bisa menggugah para pembicanya mengenai berbagai realitas sosial yang terjadi.

59702_141810242654338_1152889530_n

Saya berkenalan dengan seorang penyair dan penulis kawakan / senior, yaitu Remmy Novaris DM yang sudah mulai menulis sejak tahun 1976. Beliau memiliki sederet prestasi dan penghargaan di bidang sastra dan tentu saja sudah menerbitkan karya yang jumlahnya sangat banyak. Sekarang Pak Remmy banyak berkecimpung dalam upaya penerbitan indie-lable yang sifatnya non-profit.

Selain Pak Remmy, ada lagi nama Hairul Haq, yang sudah menulis puisi dan cerita pendek sejak tahun 1990. Beliau banyak aktif dalam berbagai organisasi kesenian Betawi. Remmy, Hairul, dan Ling tergabung dalam komunitas Dapur Sastra Jakarta.

Menyimak pembicaraan mereka, ternyata dunia per-sastra-an itu banyak ceritanya juga. Setiap penulis itu kelihatannya punya “ideologi” masing-masing. Sering terjadi “benturan ideologi”, dan bahkan juga ada istilah “pengadilan puisi”. Seru bukan? Ternyata “konflik” juga terdapat diantara para “budayawan” ini, yang mungkin susah untuk dipahami oleh orang-orang di luar dunia mereka ini .. hehehe ..

Oh ya, pada kesempatan itu, saya juga dikasih satu buku “Kumpulan Puisi Pinangan : Karya 35 Penulis dari Dapur Sastra Jakarta” yang mereka terbitkan.

Terima kasih kawan-kawan .. Tetaplah berkarya.

Salam
Riri

421394_141810372654325_1113749466_n

Advertisements

6 thoughts on “dapur sastra jakarta

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s